Minggu, 23 Juni 2013

Karya Agatha Christie yang Pernah Kubaca

Okay, dari judulnya tentu bisa dilihat ini postingan tentang apa. Agak random, tapi karena hampir tiap ke toko buku pasti nengok karyanya Agatha Christie di rak toko, jadi tergelitik buat sharing.

Buku-buku Agatha Christie yang sudah pernah kubaca akan kuawali dengan yang pertama kali kubaca:


Misteri Tujuh Lonceng. Aku baca buku ini waktu SMA, pinjam di perpustakaan. Sebelumnya aku memang akrab dengan cerita-cerita misteri, tapi belum pernah baca karya Agatha Christie. Di perpustakaan cukup banyak pilihan novel Agatha Christie, sampai bingung mau milih baca yang mana. Akhirnya pilihan jatuh ke novel ini, karena (alasan satu-satunya) judulnya. Memang dulu covernya masih jadul. Kesan setelah baca: bingung. Karena: beberapa hal.


  1. Nggak ada tokoh utama detektifnya. Mungkin karena stereotype kalau karya Agatha Christie pasti ada hubungannya dengan Hercule Poirot, jadi sejak awal sampai akhir baca buku ini aku menunggu-nunggu kemunculan detektif kondang itu dengan maksud untuk 'berkenalan'. Ternyata, aku salah pilih buku. 
  2. Jalan ceritanya. Karena baru pertama baca karya Agatha Christie, jadi belum terbiasa dengan gaya tulisannya. Perlu berpikir beberapa kali untuk mengerti maksud ceritanya. 
  3. Inti ceritanya. Cerita detektif biasanya tipikal: ada kasus, ada lakon, ada konflik, ada penyelesaian dengan terbongkarnya kasus atau teka-teki. Tapi ujung-ujungnya bingung sampai selesai baca karena nggak ngerti apa inti ceritanya.
Yah, mungkin suatu saat aku baca buku ini lagi biar ngerti apa ceritanya.

Pembunuhan di Lorong. Ini kumpulan cerita pendek atau kumpulan kasus. Buku ini juga aku pinjam dari perpustakaan. Disini aku berkenalan dengan Hercule Poirot di beberapa cerita. Di buku ini juga aku mulai tertarik untuk membaca karya Agatha Christie yang lain, tapi mulai pilih-pilih, jangan sampai milih baca buku yang cuma bikin bingung. Jadi, preferensiku baca karya Agatha Christie yang lain adalah yang ada Hercule Poirot-nya, dan cara yang aman adalah dengan memilih kumpulan cerita pendek (pemikiran pada saat itu).

Gajah Selalu Ingat. Walaupun sudah ber'janji' untuk cuma baca kumpulan cerita pendek, ternyata yang aku baca justru novel. Buku ini aku beli di obralan. Harganya saat itu sangat murah. Sayang, buku Agatha Christie yang tersisa tinggal dua judul, Gajah Selalu Ingat dan Pembunuhan di Lorong yang sudah kubaca. Jadi, aku cuma beli buku ini, dan ternyata ujung-ujungnya nyesel karena nggak beli Pembunuhan di Lorong sekalian karena sekarang aku pengen baca lagi (sedih). Tapi untuk cerita, nggak nyesel, buku yang ini bagus. Featuring Hercule Poirot karena memang itulah yang aku cari, dilihat dari sinopsis cerita di belakangnya. Aku juga berkenalan dengan Ariadne Oliver, teman lakon detektif ini. Covernya sendiri nggak terlalu menarik (untuk versi yang jadul). Belakangan aku tahu buku itu diobral karena akan dicetak lagi dengan cover yang baru.

Masalah di Teluk Pollensa. Buku ini kubeli setelah ganti cover yang baru. Dilihat dari sinopsis ceritanya, ini adalah kumpulan cerita pendek, jadi langsung beli. Apalagi featuring Hercule Poirot. Tapi ternyata di dalamnya nggak cuma Hercule Poirot yang jadi 'jagoan' disini. Aku berkenalan dengan tokoh baru, seperti Parker Pyne, dan Harley Quin. Untuk buku selanjutnya, aku ingin baca yang featuring kedua tokoh itu. Tentu dengan sinopsis atau review yang menarik.

Gadis Ketiga. Selang satu bulan setelah beli Masalah di Teluk Pollensa, karena nggak sabar baca buku Agatha Christie lagi, aku beli buku ini. Dari beberapa pilihan yang ada, jatuh pada buku ini karena cover dan judulnya yang membuat penasaran. Mungkin karena ada 'orang ketiga' disini, konfliknya bisa keren. Tapi agak kecewa karena terlalu banyak 'kebetulannya'. Memang, nggak ada gambaran mau baca buku yang mana yang akhirnya cuma asal tunjuk-beli, nggak coba baca-baca review juga. Tapi oke juga kok, sepak terjang Hercule Poirot yang 'ngangenin' bisa jadi obat lara. Selain itu, aku 'ketemu' lagi dengan Ariadne Oliver.

Melihat Dengan Cermin. Sinopsis ceritanya yang bikin penasaran. Dengan satu kalimat skeptis, "Masa iya ada nenek-nenek detektif?" aku beli buku ini. Di buku ini, aku berkenalan dengan Jane Marple, si nenek detektif. Ceritanya bagus, di buku ini aku jadi mengerti tipe tulisan Agatha Christie. Di buku ini ada tambahan drama yang terlihat jelas, terang-terangan, bukan cuma cerita tersirat yang disampaikan 'klien' ke 'detektif'. Karena buku ini pula, jadi pengen baca sepak terjang Miss Marple di cerita yang lain.

Mr. Quin yang Misterius. Di buku terdahulu, Masalah di Teluk Pollensa, aku sudah 'berkenalan' dengan Mr. Quin. Di buku ini isinya tentang cerita pendek, yaitu kumpulan kasus yang di kasus pertamanya menceritakan pertemuan pertama dengan Mr. Quin. Sebenarnya di setiap cerita, tokoh utamanya adalah Mr. Satterthwaite dan Mr. Quin hanya terlihat sebagai 'sidekick'. Tapi hubungan antar keduanya sangat unik dan menarik karena keduanya sama-sama 'terlalu' rendah hati untuk mengakui bahwa mereka 'berdua' lah yang memecahkan kasus. Mereka selalu memuji salah satu dari mereka yang berhasil memecahkan kasus. Hubungan yang aneh menurutku, dan itulah yang membuatnya menarik. Di kasus terakhir, aku hampir gagal menangkap maksudnya dan hampir menganggap kalau Mr. Quin itu kriminal, tapi ternyata bukan (lega deh) karena aku suka dengan karakter satu itu, melebihi Hercule Poirot. Sayang, Mr. Quin cuma muncul di buku ini dan cerita pendek di Masalah di Teluk Pollensa. Dan Mr. Quin tetap misterius.

Tiga Belas Kasus. Sepertinya aku masih terpaku dengan 'janji'ku dulu untuk cuma membeli kumpulan cerita pendek. Buku ini menceritakan kasus-kasus dengan tokoh Miss Marple. Disini aku jadi semakin kenal dengan nenek detektif ini. Deduksinya cemerlang, dan ini menghapuskan anggapan bahwa orang tua itu tidak selalu pikun. Ada juga orang tua yang nalarnya sangat tajam seperti Miss Marple ini, walaupun ini cuma fiksi. Entah bagaimana di dunia nyata, tapi aku ingin sampai tua nanti tetap berotak tajam seperti Miss Marple. Tokoh detektif ini juga rendah hati seperti Mr. Quin dan Mr. Satterthwaite, tidak seperti Hercule Poirot yang merasa pasti semua orang mengenal namanya. Buku yang kubeli ini covernya sudah baru lagi.

Pembunuhan atas Roger Acroyd. Ini buku Agatha Christie yang 'terakhir' kubaca. Tentu masih akan ada buku-buku selanjutnya. Featuring Hercule Poirot. Membaca buku ini sangat memuaskan! Banyak hal baru yang kutemukan disini. Penceritaan yang tidak biasa, alur yang tidak bisa ditebak, dan akhir yang mengejutkan. Padahal tidak berniat untuk membeli buku ini, karena setelah membaca beberapa review yang sebetulnya bilang bagus, tapi aku masih takut kecewa kalau tidak memenuhi ekspektasi. Sampai sesak napas nggak percaya waktu kasusnya terkuak.

Cover yang tertera disini adalah cover buku pada saat kubaca. Masih sedikit karya Agatha Christie yang kubaca. Padahal penggermar misteri. Payah deh aku (hmm). Then, what's the next Agatha Christie's book? Just wait... nabung dulu nih... hehehee...

Selamat mojok dan 'moco' buku!
@mahdiyanti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...