Minggu, 18 Agustus 2013

The Boy Sherlock Holmes: Death in The Air (#2)


Judul: The Boy Sherlock Holmes: Death in The Air
Penulis: Shane Peacock (2009)
Penerjemah: Maria Lubis
Penerbit: Qanita
Tahun: 2012
Seri ke-2 dari The Boy Sherlock Holmes
Genre: Misteri-Anak, Petualangan

Saat mengembuskan napas terakhir, Rose Holmes telah berkata kepada Sherlock bahwa begitu banyak yang harus dia lakukan dalam hidupnya.


Seperti apa rasanya melihat seseorang tewas tepat di hadapanmu? Sherlock Holmes akan segera mengetahuinya. Ia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan. Polisi telah meminta para penonton untuk menjaga jarak dari aksi pertunjukan amphiteater, tetapi anak itu tidak dapat menahan godaan untuk bisa melihat lebih jelas. Dia menyelinap keluar dari kerumunan yang sangat padat, melewati polisi, dan berjalan pelan-pelan di lantai berlapis papan itu. Semua orang menengadah. Dia bergerak ke tempat terbuka, kedua matanya membelalak kaget melihat manusia-manusia yang terbang. Namun, tiba-tiba manusia sirkus yang terbang itu jatuh dan ia akan segera kehilangan nyawanya. Orang itu jatuh di dekat Sherlock, namun ternyata orang itu masih bernapas ketika menghantam lantai kayu yang keras. Sherlock mendekatkan kepalanya di dekat mulut laki-laki itu yang berusaha mengatakan sesuatu, dan ia mendengarnya bergumam dengan suara tersengal: "Bungkam...aku."


Monsieur Mercure yang juga dikenal dengan nama Le Coq, lelaki sirkus yang jatuh itu meskipun terbujur kaku dengan tengkorak yang pecah, masih bernapas. Ia dirawat di rumah sakit dalam keadaan (yang saat ini disebut) koma. Sherlock tidak sengaja berada di lokasi kecelakaan itu. Dia datang ke Crystal Palace untuk menemui ayahnya yang bekerja disana ketika ia melihat salah satu manusia sirkus jatuh tepat di hadapannya. Ia merasa telah disodori kasus kedua, setelah kasus Whitechapel yang merenggut nyawa ibunya, Rose Holmes. Namun, saat itu ia masih menggelandang. Sebuah pengumuman ia harapkan dapat menyelamatkan hidupnya, yaitu Sigerson Trismegistus Bell, seorang apoteker tua, memerlukan seorang asisten. Ia hampir putus asa ketika orang tua itu menolak menemuinya, sehingga ia mengatakan bersedia bekerja tanpa dibayar hanya untuk mendapatkan makanan dan tempat berteduh. Sigerson Bell menerimanya dan hari demi hari ia makin menyukai asistennya itu.

Sherlock memulai penyelidikannya tentang kasus jatuhnya bintang sirkus itu dengan tujuan untuk mendapatkan penghargaan yang seharusnya ia dapatkan ketika ia memecahkan kasus Whitechapel. Pada saat jatuhnya bintang sirkus itu, ia melihat tongkat pegangan yang bagian patahnya tak wajar, seperti disengaja. Jelas bahwa hal tersebut bukan kecelakaan. Selain itu, kepolisian mengeluarkan hadiah kepada siapa saja yang mampu memberikan informasi mengenai tindak kejahatan itu. Hal itu merupakan poin plus untuk Sherlock. Namun ternyata kesulitannya tidak hanya itu. Sigerson Bell yang biasanya ceria ternyata menyimpan rahasia, yaitu tunggakan sewa. Mau tak mau, Sherlock memikirkan hal ini karena apabila Sigerson Bell kehilangan apotek dan tempat tinggalnya, maka ia juga akan kehilangan pekerjaan. Oleh sebab itu, ia harus memecahkan kasus ini, paling tidak untuk menyelamatkan Sigerson Bell yang telah baik hati menampungnya.

Irene Doyle berusaha membantunya, namun Sherlock sebisa mungkin menghindarinya karena hal tersebut dapat membahayakan nyawa Irene, seperti yang hampir terjadi pada kasus sebelumnya. Irene kemudian lebih sering bersama dengan Malefactor yang diakuinya ingin menyelamatkannya dari dunia kelam kejahatan London. Hal tersebut membuat Sherlock marah, karena Malefactor biasa menipu. Namun demikian, Sherlock masih membutuhkan bantuan Malefactor yang lebih mengenal kejahatan. Malefactor memberikan bantuannya dengan enggan yang ternyata justru menipu dan menjebak Sherlock.

Bantuan justru datang dari pihak yang tidak disangka-sangka. Sigerson Bell, selain adalah majikannya, ia juga merupakan teman dan mentornya. Ia menekankan padanya untuk banyak membaca. Pekerjaannya sebagai asisten apoteker membuat pengetahuannya tentang kimia dan anatomi tubuh manusia berkembang. Bell juga menawarinya untuk belajar bela diri yang disebutnya Bellitsu, namun Sherlock masih belum berkenan. Tak diduganya pula bahwa Bell mendukung usahanya memecahkan kasus dan bahkan mengajarinya cara menyamar. Bantuan yang lain didapatkannya pula dari bintang sirkus muda terkenal, The Swallow yang kemudian menjadi temannya.

Masih dibayangi bekas luka akibat kematian ibunya, Sherlock berusaha keras memecahkan kasus ini. Ia akan memastikan tidak ada orang terdekat yang akan menjadi korban. Ia akan memastikan namanya akan dikenal, ditulis di surat-surat kabar dan dia mendapatkan bayaran yang pantas, karena ia telah berjanji pada ibunya. Berhasilkah ia melakukannya dan apakah ia mendapatkan yang ia inginkan?

Sebetulnya, setelah selesai membaca buku ini, rasanya kepingin marah. Tapi juga penasaran, jadi langsung pengen baca buku yang selanjutnya. Di buku ini, pengetahuan Sherlock makin berkembang, terutama ketika ia mendapat dukungan dari Sigerson Bell yang sebetulnya jenius walaupun aneh. Sigerson Bell seperti penggambaran Sherlock Holmes ketika dewasa, Shane Peacock piawai mengarahkan perkembangan pribadi Holmes muda. Walaupun pengetahuan Sherlock berkembang, emosinya masih labil. Ia masih marah atas kasus sebelumnya dan hal ini mempengaruhi penyelidikannya. Covernya yang bahasa Indonesia paling bagus dari seri The Boy Sherlock Holmes edisi bahasa Indonesia yang sudah keluar. Warnanya yang kuning eye-catching dan tulisannya yang warnanya merah menyala terlihat berani dan menggambarkan karakter Sherlock Holmes muda yang berapi-api.

Seri The Boy Sherlock Holmes (Shane Peacock)
1. The Boy Sherlock Holmes: Eye of The Crow
2. The Boy Sherlock Holmes: Death In The Air
3. The Boy Sherlock Holmes: Vanishing Girl
4. The Boy Sherlock Holmes: The Secret Fiend (belum terbit dalam Bahasa Indonesia)
5. The Boy Sherlock Holmes: The Dragon Turn (belum terbit dalam Bahasa Indonesia)
6. Becoming Holmes: The Boy Sherlock Holmes, His Final Case (belum terbit dalam Bahasa Indonesia)

About the Author:
Shane Peacock
Shane Peacock lahir tahun 1957 di Thunder Bay, Ontario, dari empat bersaudara. Ia bersekolah di sebelah utara kota Kapuskasing sebelum kuliah, dimana ia belajar sejarah dan sastra Inggris. Selain menjadi seorang penulis biografi, jurnalis, dan penulis naskah, ia juga menulis enam novel dan tiga drama dan telah masuk nominasi dalam beberapa penghargaan, termasuk National Magazine Awards dan Arthur Ellis Award untuk crime fiction. Saat tidak menulis, Shane Peacock senang bemain hoki dengan ketiga anaknya dan menonton pertandingan sumo. Ia tinggal dekat Cobourg, Ontario.
Series:
The Dylan Maples Adventures
The Boy Sherlock Holmes
Awards:
Arthur Ellis Award
◊ Best Juvenile (2008): Eye of the Crow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...