Jumat, 15 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Harry Potter dan Batu Bertuah

http://irwanbajang.com/2013/11/5bukudalamhidupku-sebuah-proyek-mudik-bareng-ke-blog-sendiri/
Yah, gagal deh konsisten posting proyek 5 buku dalam hidupku. Gara-gara nge-lab sendirian dan capek luar biasa sampai hampir pingsan *lebay*skip*, gak sempat posting terjadwal padahal sudah terpikir poin-poinnya. Tapi gak papa deh, terlewat dua hari sih, yang penting maknanya kan? Hehehe.. Nah, kali ini aku mau sharing tentang buku "tanpa gambar" yang pertama kubaca, alias novel pertamaku, yaitu Harry Potter dan Batu Bertuah.

Judul: Harry Potter dan Bertuah
Judul Asli: Harry Potter and The Philosopher's Stone
Penulis: J.K. Rowling
Alih Bahasa: Listiana Srisanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 1997

Pada suatu hari, aku yang masih SD kelas 2 tiba-tiba ditanya tante: "Hani suka baca buku?" Wah, langsung nyerocos deh, suka baca buku apa, judul-judulnya apa, sampai berbusa-busa *lebay lagi*. Pertanyaan selanjutnya: "Pernah baca buku yang nggak ada gambarnya?" Nah pertanyaan ini bikin bengong. Pikirku saat itu, apa asiknya buku tanpa gambar? Waktu itu memang suka buku karena dalamnya ada gambarnya, selain sampul depan tentunya. Saat itu rasanya aku belum merasa cukup umur buat baca buku-buku 'berat', tapi tanteku meyakinkan ada buku tanpa gambar buat anak macam aku. Jadilah buku ini kudapat pas ulang tahunku yang ke-8.

Masa kecil Harry Potter sangat tidak menyenangkan. Baru baca bagian awal sudah merasa miris dengan kehidupan si kecil Harry yang nelangsa. Sebatang kara, diasuh paman-bibi yang tidak menginginkannya, sepupu tukang ngadu, dan sedihnya adalah dia tidak bisa membantah sesebal apapun dia. Kalau dia membantah, yang didapat hanya hukuman, dan itu pun masih untung karena tidak dibuang di jalanan atau panti asuhan. Tapi kadang Harry memilih untuk tidak tinggal bersama mereka.

Suatu hari, hidupnya berubah hanya dari sepucuk surat. Surat untuknya. Padahal tak pernah ada surat untuk Harry Potter. Tapi paman-bibinya tak pernah mengijinkannya membacanya, sampai 'kabur' ke 'ujung dunia' untuk menghindari surat itu dikirim kepadanya. Tapi malah Harry didatangi manusia 'besar' berpayung merah jambu yang memiliki sihir. Harry Potter mulai mengenal jati dirinya, keluarganya, dan masa depannya sebagai seorang penyihir yang di kalangan penyihir ternyata ia sangat terkenal. Tiba-tiba saja Harry Potter yang tampaknya tidak diinginkan menjadi seorang selebritis.

Ternyata kehidupan menjadi penyihir tidak semudah yang ia kira. Pikirnya dengan sihir apakah segalanya menjadi mudah? Tentunya ia haruslah sekolah dulu, dan Hogwarts adalah sekolah sihir terhebat yang Harry pikir. Dengan sihir pun, ternyata ada penjahat yang dulu membunuh kedua orang tuanya juga mengincarnya. Harry Potter kecil harus berpikir keras untuk melindungi diri dan teman-temannya dari kekuatan jahat seseorang, Kau-Tahu-Siapa.

Pertama kali membaca buku 'tanpa gambar' tapi rasanya aku bisa melihat semua kejadian terbayang di depan mata. Itulah kekuatan imajinasi. Melalui buku ini aku tahu kalau kata-kata bisa menggambarkan peristiwa seperti terjadi di depan matamu, seperti melihat film, padahal itu 'hanyalah' kumpulan kata-kata.

Sebetulnya hal itu tak lepas dari kepiawaian penulis dan penerjemah juga. Tapi di pikiranku yang sederhana dulu, begitu selesai baca buku ini rasanya takjub berlipat. Karena buku ini jugalah aku jadi suka baca buku-buku yang banyak tulisannya, bahkan mulai berani baca buku-buku tebal yang ditakuti banyak anak sekolah. Ehm, jadi pengin balik ke masa dulu pas getol-getolnya baca tanpa pandang bulu. Sekarang mau baca aja udah ngantuk *eh*. Semoga bisa jadi penyemangat aja deh. Terimakasih atas kadonya ya, tante :*

2 komentar:

  1. wow kelas 2 sd udah baca harry potter. keren! tapi bukunya memang seru. imajinasi liarnya itu bikin bacanya sampe ga kebayang deh, terfokus di situ ga mau pergi hihi

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...