Rabu, 13 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Lupus Kecil: Diam Belum Tentu Emas

http://irwanbajang.com/2013/11/5bukudalamhidupku-sebuah-proyek-mudik-bareng-ke-blog-sendiri/

Detik-detik terakhir, akhirnya ikut event ini juga deh. Nah, dalam rangka membahas buku-buku yang berpengaruh dalam hidupku, buku ini termasuk salah satunya. Sebetulnya bukan cuma isi bukunya yang mempengaruhi hidupku, tapi juga peristiwa yang ada di baliknya. Buku apaan sih? Hahaa, sebetulnya cuma sebuah buku sederhana dari Seri Lupus Kecil berjudul Diam Belum Tentu Emas, karya Hilman Hariwijaya.

this picture is taken here
Judul: Lupus Kecil: Diam Belum Tentu Emas
Penulis: Hilman Hariwijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2007

Ceritanya pada waktu SMP hampir seluruh murid sedang ketagihan baca Lupus atau sebetulnya hampir semua karangan Hilman Hariwijaya. Ada yang suka Lupus, Olga, Lupus Kecil, dan ada yang koleksi malah. Entah siapa yang memulai tren ini di sekolah, tapi banyak yang membawa buku-buku ini ke sekolah. Ada yang sudah baca judul yang ini, yang itu, walaupun di perpustakaan ada beberapa judul, rasanya nggak puas baca cuma beberapa. Pinjam-meminjam pun terjadilah. Yang belum baca judul yang ini, pinjam ke teman yang punya, tukar-tukaran kalau ada yang punya judul yang dipunya nanti ditukar dengan judul yang lain. Dan selama beberapa minggu obrolan para murid berputar-putar di sekitar bacaan Lupus. Ada yang iseng ngasih teka-teki konyol, dan banyak juga yang terinspirasi bikin plesetan dan pantun jenaka. Kompak sekali rasanya satu sekolah baca buku yang sama.

Nah, ada satu judul buku yang dimiliki salah satu teman dan aku belum pernah baca. Karena teman itu pernah baca salah satu bukuku (walaupun buku itu juga kudapat dari pinjaman *hadeh*) maka meminjamlah saya. Teman yang meminjamkan juga bilang dan mewanti-wanti agar jangan sampai hilang. Buku itu Seri Lupus Kecil yang berjudul Diam Belum Tentu Emas. Waktu itu masih di hari yang sama dengan waktu aku pinjam buku itu. Karena masih di sekolah dan ada ekstrakurikuler sampai sore, aku baca beberapa bab.

Waktu mau pulang, aku sudah berjalan sampai gerbang, dan karena belum dijemput, aku mau baca lagi. Eh, ternyata buku itu nggak ada. Aku sempat panik, tapi setelah diingat-ingat buku itu masih tertinggal di loker meja kelas. Sekolah sudah sepi karena sudah sore dan banyak murid sudah pulang. Aku kembali ke kelas untuk mencari buku itu. Guess what, buku itu nggak ada di loker mejaku. Aku tambah panik, mana nggak ada siapa-siapa di kelas. Oke, kemudian aku mencari di setiap loker di meja kelas. Buku itu nggak ada sama sekali di loker manapun di kelas (dan malah nemu salah satu loker meja yang jorok banget *iihh*). Rasanya langsung lemes di tempat. Belum sempat mikir lama akhirnya aku dijemput, tapi pikiranku masih ke nasib buku itu. Kok bisa-bisanya raib ya?

Karena temanku itu nggak tahu, kayaknya aku nggak perlu ngasih tahu kalau bukunya hilang. Dia tahunya ya, buku itu kupinjam. Soalnya aku tahu tipenya, kalau tahu bukunya hilang dia pasti marah besar. Jadilah aku memutuskan untuk membelikan buku yang baru dengan judul sama, karena aku tahu buku itu juga baru dibeli. Dia sendiri yang bilang, bahkan menyampulnya sendiri. Nah, jadi tambah nggak enak kan? Akhirnya aku mengumpulkan dana dari uang sakuku yang sedikit itu untuk membelikan buku baru dengan judul sama untuk mengganti buku yang hilang. Begitu sudah terkumpul, aku cari buku itu di toko buku dan untung banget buku itu ada. Nggak bayangin kalau buku itu nggak ada, padahal udah ditagih sama yang punya, bener-bener nggak enak hati dah. Sekalian juga aku beli sampulnya. Sampai di rumah, aku sampul buku itu, dan itu juga pertama kali aku nyampulin buku pakai sampul yang bukan instan (yang sudah ada perekatnya itu loh).

Sampai di sekolah, aku tunggu sampai pulang sekolah untuk ngasih bukunya. Buku itu kuberikan dengan ucapan terimakasih sederhana dan cepet-cepet pulang dengan alasan udah dijemput sebelum ditanya-tanya lebih jauh. Fiuh, lega banget rasanya. Mulai hari itu, aku nggak pinjem buku selama beberapa minggu dan jadi lebih berhati-hari kalau mau pinjam buku. Rasanya ironis banget sama judul bukunya, Diam Belum Tentu Emas, tapi malah lebih milih diam. Dan sampai sekarang, aku belum baca buku itu sampai tuntas. Tapi akhirnya aku bilang juga kok, aku bener-bener minta maaf. Sekali lagi jadi pelajaran deh, kalau Diam Belum Tentu Emas.

Buat yang bukunya pernah aku pinjemin dan ilangin, maaf banget ya. Aku nggak sengaja. Aku juga akhirnya udah bilang kok, aku minta maaf banget sampai ada kejadian itu, (*hiks). Sampai kamu ternyata udah lupa kalau aku pernah ngilangin bukumu, tapi sampai sekarang aku belum lupa. Dan ternyata kita ketemu sampai di satu SMA yang sama kan? Hehee... Kudoakan sukses untukmu ya...

Salam,
@mahdiyanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...