Senin, 31 Agustus 2015

Titik Nol (Zero Moment) oleh M.G. Harris (The Joshua Files #3)



Judul: Titik Nol
Judul Asli: Zero Moment
Penulis: M.G. Harris (2010)
Alih Bahasa: Nina Andiana
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (2011)
Edisi Bahasa Indonesia, Softcover, 368 hlm.

Blurb:
“Ini belum selesai.” Itulah kata-kata terakhir ayah Josh sebelum tewas di gunung bersalju. Tapi bagi Josh, semuanya sudah berakhir. Ia sudah menemukan Codex Ix – buku kuno bangsa Maya yang memuat cara menyelamatkan umat manusia dari supergelombang galaksi pada tahun 2012. Ia juga berhasil mendapatkan Gelang Itzamna – alat yang semestinya berfungsi sebagai mesin waktu.

Jadi Josh berusaha menjalani hidup normal. Tetapi sepertinya bahaya memang tak pernah meninggalkan Josh. Ketika berada di Brasil untuk mengikuti kejuaraan capoeira, Josh sadar musuh-musuhnya masih terus membuntuti. Dan kali ini, mereka juga mengancam keselamatan ibu serta teman-temannya.

Josh harus bertindak, dan mungkin saja ini akan menjadi titik nol baginya, awal baru dalam petualangannya mencari kebenaran.


Komentar:
Setelah dibuat terpesona oleh keindahan piramida Maya dan peradaban kuno bangsa Maya di Meksiko, di buku ketiga ini aku dibuat terpesona oleh capoeira.

Yep, Josh dan Tyler mewakili Inggris di kejuaraan dunia capoeira di tanah kelahiran olahraga beladiri itu, Brasil. Apakah aku perlu memasukkan negara itu dalam ‘daftar negara yang ingin kukunjungi’? Itu sudah pasti! Kupikir Brasil bakal mirip Meksiko, tapi ternyata tidak. Brasil punya keindahannya sendiri. Pantainya, ombaknya, selancarnya, capoeira-nya… detail tentang itu benar-benar bikin ngiler. Bahasa pengantarnya juga beda, Portugis, di mana bahasa pengantar di Meksiko adalah Spanyol. Kayaknya enak honeymoon di sini. *eh*

Josh agak terbawa emosi di buku ketiga ini. Dan hal itu diceritakan dengan… wow… wajar banget. Cara menjelaskan di cerita itu lho, terasa remaja banget tapi nggak terlalu lebay. Jadi, Josh berteman baik dengan Ixchel dan Tyler. Ia sering berkirim e-mail dengan Ixchel, karena Ixchel ada di Ek Naab, dan ia di Oxford. Tapi waktu ke Brasil bersama ibunya dan Tyler, Josh bertemu Ixchel dan Montoyo di sana. Dan saat melihat Ixchel, Josh merasa… ‘duar’! Padahal sebelumnya ia merasa biasa saja dengan Ixchel. Persis itulah yang diceritakannya ke Tyler, dan Tyler ternyata paham. Tapi Ixchel ternyata berpacaran dengan Benicio, sepupu Josh yang bertugas mengawasi Josh di Oxford dengan kuliah di sana. Rasanya pasti berantakan banget sampai Josh nggak bisa konsentrasi di kejuaraan capoeira.

Nggak hanya sampai di situ saja, ibu Josh, Ixchel dan Tyler kemudian diculik! Josh harus berbuat sesuatu. Ketika penyelamatan dilakukan, hanya Tyler yang bisa diselamatkan dari penculik-penculik itu walaupun Tyler harus menderita luka tembak di bagian samping perut. Duh, anak-anak ini masih empat belas tahun, tapi petualangannya serem abis.

Yang kusuka di sini adalah kerja sama antara Josh dan Tyler. Di buku-buku awal, Tyler kelihatan nggak terlalu peduli dengan peradaban Maya walaupun Josh sudah banyak bercerita padanya. Tyler lebih fokus ke kejuaraan capoeira. Tapi setelah kejuaraan itu, ia benar-benar tulus membantu Josh dengan capoeira-nya sampai luka tembaknya terbuka lagi. Mungkin karena ia sudah satu tingkat di atas Josh dan meraih juara kali ya? Bisa jadi…

Di tengah kekacauan penculikan itu, Josh menemukan rahasia bangsa Maya lagi, yang ditemukannya secara tak sengaja. Ia juga merasa telah menemukan titik nol hidupnya. Tapi apakah ia bisa mengubah alurnya setelah ia mencapai titik nol itu? Penemuannya itu akan membawanya ke petualangan di buku berikutnya…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...