Kamis, 29 Oktober 2015

Fangirl oleh Rainbow Rowell

Judul: Fangirl
Penulis: Rainbow Rowell (2013)
Alih Bahasa: Wisnu Wardhana
Penyunting: NyiBlo
Proofreader: Dini Novita Sari
Desain dan Ilustrasi cover: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Penerbit: Spring (2014)
Edisi Bahasa Indonesia, Softcover, 456 hlm.
Bought secondhand from Raafi ()

Blurb:
Cath dan Wren – saudari kembarnya – adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekedar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya!

Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga professor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil.

Sekarang pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?

Komentar:
Awalnya kupikir Fangirl adalah kisah penggemar boyband sewaktu belum baca sinopsisnya. Lalu, setelah baca sinopsisnya yang menyinggung fanfiksi, kupikir kisah ini layak dibaca. Aku mengenal fanfiksi ketika belum lama masuk kuliah, dan itu pun secara nggak sengaja. Kadang karena malas baca komik yang panjangnya minta ampun, aku lebih suka baca ringkasannya di internet. Padahal di komik juga ada gambar yang perlu dinikmati kan? Hehehee, namanya juga malas, bagiku yang penting adalah ceritanya. Saat itulah aku menemukan apa yang dimaksud fanfiksi.

Akan kubahas karakternya dulu. Tokoh utamanya adalah seorang cewek bernama Cath, yang menurutku kurang bisa kusukai. Cath orangnya terlalu… apa ya… tertutup dan kurang mandiri. Masa’ dia memilih kelaparan atau makan foodbar daripada nyari kantin? Bertolak belakang denganku yang lebih suka kemana-mana dan menjelajah sendirian. Aku juga bingung dengan pendapat Cath yang nggak suka dengan sifat Levi (mantan pacar Reagan) yang terbuka dan ramah, karena menurutku justru itu malah sifat yang wajar.

Tentang sifat ramah Levi yang bisa bikin salah paham menurutku itu tergantung perasaan masing-masing sih. Orang kayak Levi, kalau suka dia pasti bilang, jadi Cath nggak perlu parno nggak penting. Mungkin karena sifatku lebih seperti Levi, jadi aku nggak memahami karakter Cath. Tapi entah kenapa aku juga nggak terlalu menyukai Levi, terlalu sempurna soalnya (hahahaa…).

Karakter yang kusukai justru Reagan, teman sekamar Cath, karena kejujurannya yang blak-blakan. Dan rasanya ajaib Reagan bilang dia menyukai Cath sebagai teman. Reagan baik dan sabar banget menghadapi Cath. Cath beruntung punya teman kayak Reagan.

Lalu ceritanya… aku agak tersendat-sendat membacanya. Sebetulnya ceritanya cukup lancar mengalir, tapi karena ada hal-hal yang membuatku mengerutkan kening dan membantin ‘kok aneh’, bacanya jadi lama. Terutama dalam memahami karakter Cath. Aku merasa Cath mempersulit dirinya sendiri dalam mengatasi masalahnya. Tapi aku bisa memahami kesulitannya ketika Cath mencoba peduli dan merawat ayahnya yang lemah secara psikis, sementara Wren tidak peduli dan malah mencari masalah. Cath pasti merana dan merasa kalau dia sendirian. Untungnya dia punya teman-teman macam Levi dan Reagan.

Perkembangan cerita dan karakternya terasa, walaupun lambat. Cath menjadi semakin mandiri, sedangkan Wren malah berubah kekanak-kanakan. Membaca kisah ini memerlukan kesabaran karena pace-nya andante (pelan) dan bagiku perlu ketahanan khusus agar nggak jatuh tertidur di beberapa adegan terutama skinship (yang saking lamban atau nggak penting, lebih banyak ku-skip). Penulisnya keren juga bisa menyelipkan fanfiksi dalam ceritanya, yang semuanya adalah rekaannya. Aku bisa membayangkan sulitnya menyatukan beberapa karya yang tidak berhubungan menjadi satu.


Akhir kata, aku mau bilang kalau Reagan is cool.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...