Rabu, 20 Januari 2016

Autumn in Paris oleh Ilana Tan

Autumn in Paris oleh Ilana Tan
Judul: Autumn in Paris
Penulis: Ilana Tan (2007)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)
Edisi Bahasa Indonesia, Softcover, 456 hlm.

Blurb:
Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup… sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya… juga mengubah dunianya.

Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa… arti tak berdaya… Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup...

Seandainya masih ada harapan - sekecil apa pun - untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu...

Komentar:
Beware: Curhat Detected!

Buku ini adalah buku terakhir yang kubaca dari tetralogi musim. Dari buku-buku lain seri ini yang sudah kubaca sebelumnya, aku cukup tahu haluan dan alur di dalamnya, sehingga aku jadi berekspektasi kalau buku ini bisa jadi sehaluan. Tapi ternyata ada detail lain yang nggak kuduga.

Ini adalah buku kedua tetralogi musim, tapi keempatnya tidak perlu dibaca berurutan karena masing-masing menyediakan cerita yang berbeda. Hanya hubungan antar karakterlah yang menghubungkan keempatnya. Aku merasa entah beruntung entah sial karena membaca buku ini paling akhir dari yang lain-lainnya karena bagiku kisah di buku ini seperti ‘gong’nya. Jika diurutkan dari buku seri ini yang pertama kubaca sampai terakhir, maka akan terbentuk diagram seperti ini:
menurut urutan baca
Sedangkan jika diurutkan dari ukuran terbitnya, maka inilah penilaianku:
menurut urutan terbit
FYI, ini adalah penilaianku. This could be subjective, even though I've tried hard to be objective. Tapi… dari keempatnya, Autumn in Paris nggak akan kubaca dua kali. Kalaupun kubaca lagi, mungkin nggak akan selesai sampai akhir. Why? Karena rasanya seperti berjalan menerjang hembusan angin musim gugur yang menggigit (lebay mode on). Seringkali aku membaca karena aku ingin merasa bahagia setelah membaca. Tapi di sisi lain aku juga suka kejutan. Karena itulah cukup sulit menentukan ‘rasa’ buku ini. Dan akhirnya unsur kejutannyalah yang menang. Sebaliknya, buku yang masih akan kubaca berkali-kali adalah Spring in London (review here), karena dari buku itu juga rasa penasaranku pada buku lain seri ini jadi timbul. Selain itu, Spring in London ‘rasa’nya hangat dan ringan.

Karakter yang ada dalam cerita ini nggak ada yang bener-bener likeable. Awalnya Tatsuya cukup oke, tipe cowok charming tingkat dewa. Tapi semakin cerita berkembang, Tatsuya kualitasnya menurun. He turns to being softie. Yup, still, unsur kejutannyalah yang menang.

Jalan ceritanya oke, gampang diikuti dan rasanya mengalir nikmat. Banyak kata-kata berulang yang (kadang) sebetulnya tidak perlu atau sebaiknya diganti kata lain supaya nggak cepat bosan. Tapi (untungnya) kata-kata berulang yang bermakna sama ini justru jadi tanda bagiku biar bacanya skimming aja, toh aku juga masih paham maksudnya. Karena itulah, buku ini dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam saja.

Mungkin, pesan yang bisa diambil dari kisah ini adalah: jadilah orang tua yang baik dan nggak usah neko-neko sehingga nggak merepotkan anak-cucu kelak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...