Sabtu, 02 April 2016

Mockingjay oleh Suzanne Collins

http://www.gramedia.com/hunger-games-the-3-mockingjay-cover-film.html
Judul: Mockingjay
Penulis: Suzanne Collins (2010)
Alih bahasa: Hetih Rusli
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (2012)
Paperback, 432 hlm.

Blurb:
Katniss Everdeen selamat dari Hunger Games, dua kali. Tapi dia belum sepenuhnya aman dari ancaman Capitol meskipun kini ia dalam lindungan Distrik 13.

Pemberontakan makin merajalela di distrik-distrik untuk menjatuhkan Capitol. Kini tak ada seorang pun orang-orang yang dicintai Katniss aman karena Presiden Snow ingin menumpas revolusi dengan menghancurkan Mockingjay... bagaimanapun caranya.

Komentar:
Review ini bisa jadi mengandung spoiler buku sebelumnya.

Sebetulnya buku ini sudah kubaca tahun lalu dengan meminjam milik Mas Dion. Sayangnya belum sempat di-review, hanya sempat membahas karakter Johanna Mason di Catching Fire dan Mockingjay (kalau penasaran bisa dilihat di sini). Seri ini kubaca ulang setelah dapat buku pertamanya di bookswap IRF dan buku ketiganya sebagai hadiah. Buku keduanya yang kudapat pertama kali pun juga adalah hadiah. Sepertinya aku berjodoh dengan seri ini. Jadi, nggak ada alasan lagi untuk nggak me-review-nya.

Seri ini adalah kisah ber-genre scifi-distopia yang pertama kali kubaca, jadi menurutku buku ini sangat berkesan. Di buku ketiga ini, Quarter Quell berakhir dan Katniss ‘diselamatkan’. Ia berada di Distrik 13 karena Distrik 12 sudah dibumihanguskan oleh Capitol. Di sini, ia diharapkan menjadi simbol para pemberontak, menjadi Mockingjay. Padahal kondisi Katniss sendiri sedang kacau. Sementara itu, beberapa pemenang Hunger Games seperti Peeta, Johanna, dan Annie ditangkap oleh Capitol. Mockingjay ikut berperang membangkitkan semangat para pemberontak dengan cara yang tidak biasa, yaitu membuat film-film propaganda yang disiarkan ke seluruh Panem. Terjadilah perang teknologi broadcasting antara pemberontak dengan Capitol di samping perang di medan terbuka.

Kesanku membaca buku ini kali pertama yaitu tidak sabar karena Catching Fire memberikan akhir yang menarik dan membangkitkan rasa penasaran. Pembaca ikut dibuat kesal, frustasi, dan bingung seperti yang dialami Katniss karena seluruh seri menggunakan sudut pandang pertama tokoh utama. Karakter baru lumayan banyak bermunculan terutama yang berasal dari Distrik 13. Prim juga berkembang pesat karakternya, jadi makin bijak. Katniss justru terlalu emosional dan menyebalkan yang kesannya malah jadi seperti mempermainkan orang-orang.

Untuk romance-nya, walaupun adegan lovey-dovey-nya banyak, bagiku nggak terasa nyata karena ketegangan perang lebih mendominasi di seluruh cerita. Dan entah kenapa, adegan itu malah membuatku kesal. Karakter yang kusukai justru yang sudah ‘tidak ada’ seperti Cinna dan ayah Katniss. Tapi penulis bisa membuatnya ‘ada’ dalam memori mereka yang hidup dan jejak karyanya yang tertinggal. Selain itu, aku juga dibuat ‘jatuh hati’ pada Johanna Mason yang kacau dan hancur.

Jalannya perang tidak bisa diduga dan terkesan sadis karena menyerang sisi kemanusiaan yang dianggap sebagai kelemahan. Para sandera/tawanan perang disiksa sampai di luar batas kemanusiaan. Shock dan ngilu membayangkannya. Nggak heran Katniss dan para pemenang Hunger Games yang sudah ‘digojlok’ di arena kebanyakan kacau dan nggak stabil. Lihat saja Finnick yang suka nggak sadar jalan-jalan nggak pakai baju. Johanna yang nggak mau mandi. Annie yang histeris. Haymitch yang kecanduan alkohol. Sampai Peeta yang tiba-tiba bisa menjadi mesin pembunuh. Kadang aku juga kesal pada Gale yang suka menganggap remeh hal-hal di arena. Sampai ketika para pemenang turun ke medan perang, mereka seakan mengalami deja vu: Selamat datang di Hunger Games ke-76. Kesannya kok kayaknya aku sebal hampir ke semua karakternya ya? Hehee.. Ada juga kok, pemenang yang cukup waras seperti Payton.

Seluruh rasa penasaranku terjawab sudah. Penulisnya juga piawai untuk melambungkan harapan pembaca dan menghempaskannya lagi ke bumi tanpa ampun. Intinya emosi pembaca diaduk-aduk antara sedih, kesal, tegang dan frustasi. Ending yang dipilih juga cukup bagus, walapun jalan menuju akhir banyak lika-likunya. Penulis memberi banyak sekali kejutan bahkan hingga detik-detik terakhir menuju ending. Yup, aku memang adrenaline junkie dan penyuka kejutan, jadi buku ini merupakan penutup yang cukup oke untuk seri ini. 

Tidak ada pemenang yang pulih sepenuhnya. Setelah perang pun, tidak ada yang bisa benar-benar pulih. Tapi bagi mereka yang hidup, life still goes on.

Reading Challenge:

2 komentar:

  1. Mampu memainkan emosi pembaca ya? jadi tertarik baca juga kayaknya nih.. tapi agak ragu, karena udah duluan nonton filmnya, takutnya gak main imajinasi di kepala nanti.. Nice Sharing :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaah, begitulah kalau ngga ada ekspektasi apapun waktu baca, jadi banyak terkaget-kaget :D untungnya sih udah baca sebelum nonton filmnya, jadi feel-nya dapet. Makasih juga sudah berkunjung! :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...