Sabtu, 22 Oktober 2016

Ulat Sutra oleh Robert Galbraith (Cormoran Strike #2)

The Silkworm - Ulat SutraThe Silkworm - Ulat Sutra by Robert Galbraith
My rating: 4 of 5 stars
Alih bahasa: Siska Yuanita
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2014)
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 536 hlm.

Blurb:
Seorang novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi tanpa pamit selama beberapa hari seperti yang sering dia lakukan sebelumnya lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.

Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak yang berarti ada banyak orang yang ingin Quine dilenyapkan.

Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak terkira.

Review:
Rasanya agak menyesal karena tidak langsung me-review buku ini segera setelah selesai membaca. Kesan setelah bacanya jadi agak pudar. Habisnya, setelah selesai membaca buku ini, Hani merasa terguncang dengan deskripsi brutal dan twist yang bikin jungkir balik nggak keruan di buku ini. Karena itulah Hani kesulitan membuat review-nya. Jadi Hani membaca ulang sedikit ketika membuat review ini. Walaupun merupakan buku 'bantal' dengan jumlah halaman lebih dari 500, Hani bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua malam ketika pertama kali baca. Ya, memang sebagus itulah buku ini.

Semuanya berawal dari permintaan seorang klien untuk mencarikan suaminya yang hilang. Orang hilang itu, Owen Quine, adalah seorang novelis yang kontroversial karena karya-karyanya yang vulgar. Sepertinya hanya kasus biasa, dan klien juga bukan orang kaya walaupun cukup berada. Cormoran yang tenar setelah kasus yang melibatkan Luna Landry yang seorang selebritis, tetap menerima permintaan itu.

Berbekal keterangan dari si istri, Cormoran mencari jejak Owen Quine dengan menanyai kenalan dan teman-temannya. Sampai sini, Hani mulai tidak sabar karena penyelidikan berjalan sangat lama. Tapi dari pengalaman membaca buku sebelumnya, Hani mencoba memusatkan perhatian pada setiap wawancara karena bisa berarti ada petunjuk yang penting.

Pada akhirnya, Owen Quine bisa ditemukan tapi dalam keadaan tewas mengenaskan: tubuhnya hancur karena bahan kimia, dalam keadaan terikat aneh, dan ususnya hilang. Ugh! Gambaran pembunuhan yang sangat sadis dan brutal. Kondisinya persis seperti deskripsi buku yang ditulis oleh si korban, Bombyx Mori yang kontroversial.

Walaupun menemui berbagai halangan, Cormoran tetap melanjutkan penyelidikan untuk mencari pembunuh Owen. Robin ikut banyak membantu dalam kasus ini. Beruntunglah Cormoran mempunyai asisten yang loyal seperti Robin ini. Mendekati akhir, alur cerita semakin cepat. Ketegangannya juga semakin meningkat. Hani berusaha menebak pelaku, kelanjutan aksi Cormoran, dan akhir kasusnya, tapi semuanya tak ada yang benar. Penulis benar-benar pandai mengecoh pembaca.

Rasanya nggak cukup hanya sampai buku ini saja. Kelanjutan sepak terjang Cormoran dan Robin selanjutnya bakal lebih seru untuk disimak. Baru sampai sini saja Hani sudah terguncang, buku selanjutnya bakal bikin Hani shock nih, jangan-jangan. Hahaha! Buku ini ceritanya sangat menarik, misterinya bikin penasaran, dan kasusnya menghebohkan, tapi Hani mau menenangkan diri dulu sebelum lanjut ke buku berikutnya…

View all my reviews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...