Kamis, 22 Desember 2016

Glass Sword by Victoria Aveyard

Glass Sword (Red Queen, #2)Glass Sword by Victoria Aveyard
Published: 2016
My rating: 4 of 5 stars
E-book, English Edition, 444 pages

Blurb:
If there’s one thing Mare Barrow knows, it’s that she’s different.

Mare Barrow’s blood is red—the color of common folk—but her Silver ability, the power to control lightning, has turned her into a weapon that the royal court tries to control.

The crown calls her an impossibility, a fake, but as she makes her escape from Maven, the prince—the friend—who betrayed her, Mare uncovers something startling: she is not the only one of her kind.

Pursued by Maven, now a vindictive king, Mare sets out to find and recruit other Red-and-Silver fighters to join in the struggle against her oppressors.

But Mare finds herself on a deadly path, at risk of becoming exactly the kind of monster she is trying to defeat.

Will she shatter under the weight of the lives that are the cost of rebellion? Or have treachery and betrayal hardened her forever?

The electrifying next installment in the Red Queen series escalates the struggle between the growing rebel army and the blood-segregated world they’ve always known—and pits Mare against the darkness that has grown in her soul.

Review:
Setelah twist sadis di buku sebelumnya, sekarang penulis memberikan cliffhanger di buku ini.

Hebat. Aku merasa menyesal membaca buku ini sekarang. Harusnya aku membacanya setelah semua serinya terbit. Tapi, apa boleh buat.

Buku ini memberikan sensasi yang berbeda dari buku sebelumnya. Lebih banyak aksi. Lebih banyak kejutan kecil, tapi tetap saja menimbulkan reaksi: "Oh, I didn't see that coming".

Karakternya berkembang pelan tapi pasti. Lalu, emosi para tokoh penting di buku ini lebih banyak digali sebagai akibat dari tindakan-tindakan mereka di buku sebelumnya.

Si tokoh utama, Mare, jadi membingungkan tingkahnya. Dia jadi tampak bermuka dua. Bisa jadi karena dia ngga bisa move on, atau karena tertekan. Yang jelas kadang emosinya jadi merusak suasana, walaupun pemikirannya yang bercabang ini seringkali benar. Atau... benarkah? Yah, silakan dinilai sendiri ketika membacanya. Bagiku, pemikiran Mare yang suka melompat-lompat dan diliputi rasa galau memberikan petunjuk untuk tindakan yang diambilnya. Tidak semua tindakannya kusukai, tapi sebagian besar bisa kuterima.

Karakter baru yang muncul sangat banyak. Beberapa di antaranya unik dan menarik. Ketika konfilk menghangat, aksinya bertambah seru. Penulis masih memberikan twist yang bisa bikin jumpalitan, tapi karena aku sudah mempersiapkan diri, kejutannya tidak terlalu membuat kaget. Walaupun rasanya masih menyakitkan.

Selain twist cerita, penulis sepertinya juga membuat karakternya twisted, dipuntir-puntir ngga keruan. Batas antara hero dan villain jadi kabur. Semua area jadi abu-abu. Aku juga jadi 'terpuntir' dengan berharap sang hero menjadi villain. Oke, abaikan.

Dan... cliffhanger. Cukup memberikan sensasi book hangover. Selain itu juga membuatku ngga bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Untuk menghilangkan book hangover yang melanda, aku memaksakan diri membaca buku lain sesegera mungkin untuk mengalihkan perhatian. Ngga sabar baca buku selanjutnya yang baru terbit tahun depan.

View all my reviews


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...