[Book Review] The Sum of All Kisses by Julia Quinn

The Sum of All Kisses The Sum of All Kisses by Julia Quinn (Smythe-Smith #3)
My rating: 4 of 5 stars
E-book, English edition, 373 pages
Published October 29th 2013 by Avon (first published May 28th 2013)

Blurb:
He thinks she's an annoying know-it-all...
Hugh Prentice has never had patience for dramatic females, and if Lady Sarah Pleinsworth has ever been acquainted with the words shy or retiring, she's long since tossed them out the window. Besides, a reckless duel has left this brilliant mathematician with a ruined leg, and now he could never court a woman like Sarah, much less dream of marrying her.

She thinks he's just plain mad...
Sarah has never forgiven Hugh for the duel he fought that nearly destroyed her family. But even if she could find a way to forgive him, it wouldn't matter. She doesn't care that his leg is less than perfect, it's his personality she can't abide. But forced to spend a week in close company they discover that first impressions are not always reliable. And when one kiss leads to two, three, and four, the mathematician may lose count, and the lady may, for the first time, find herself speechless ...

Ulasan:
Formula hate jadi love tidak akan pernah basi kalau cara meramunya pas. AADC anyone? Yah, entah bagaimana kisah ini sedikit mengingatkan saya pada kisah Cinta dan Rangga yang terkenal itu.

Hugh memang seperti itu orangnya, kaku dan terlalu serius. Juga sangat pandai dalam matematika. Sayang sekali, seharusnya orang sepandai Hugh bisa memiliki hidup yang 'wah'. Tapi hal itu terganjal oleh masa lalu yang kelam. Padahal kan, Daniel dan Hugh sudah akur, apa yang membuat Hugh masih selalu bersikap pahit?

Sarah adalah tipe karakter wanita yang tidak terlalu saya sukai. Suka melebih-lebihkan, sok tahu, terkadang menyebalkan, dan yang paling parah adalah tindakannya mangkir dari tugasnya bermain piano dalam konser musik rutin keluarga Smythe-Smith. Tapi saya menyukai interaksinya dengan adik-adiknya yang dekat, menyenangkan, dan natural. Sarah bukan tipe kakak yang 'wow' sempurna banget dan dibanggakan adik-adiknya, atau yang suka menyuruh-nyuruh (yah, biasanya seperti itulah tingkah kakak perempuan paling tua, seperti saya ini *ups) tapi tipe yang friendly dengan sesekali suka saling menggoda.

Saya menyukai Hugh, dan tidak terlalu menyukai Sarah. Tapi penulis mampu meramu formula keduanya menjadi tidak membosankan. Adegan pertemuan Hugh dan Sarah adalah pertengkaran yang absurd. Sarah tiba-tiba melabrak Hugh. Tapi dialog pertengkaran itu bukannya menambah tensi, tapi malah membuat geli.

Selain itu, ada banyak adegan yang saya sukai. Misalnya interaksi Hugh dengan Frances, adik Sarah yang paling kecil yang sangat suka unicorn dan percaya bahwa unicorn itu ada. Lalu, ada adegan ketika Hugh harus berada satu kereta dengan Sarah dan saudara-saudaranya. Awalnya menyenangkan, namun kemudian berubah menjadi kaku luar biasa. Adegan yang paling saya sukai adalah adegan dansa. Ya, satu bintang penuh untuk adegan satu itu.

Penutupnya terlalu terburu-buru. Urusan pelik Hugh harus diselesaikan dan hal itu menjadi adegan yang tidak saya sukai. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya harus diselesaikan. Yah, sepertinya untuk bagian akhir hanya akan saya nilai cukup, karena masih menyisakan hal yang mengganjal. Bagaimana Hugh dan Sarah bisa hidup dan merasa lega dengan berada dibawah 'bayang-bayang' tanpa merasa tertekan? Gregetan saya memikirkannya.

View all my reviews

Komentar