[Book Review] Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 oleh Pidi Baiq

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq
My rating: 3 of 5 stars
E-book (iPusnas), edisi Bahasa Indonesia, Oktober 2015, 332 pages
Published 2014 by Pastel Books (Mizan Group)

Blurb:
"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)

Ulasan:
Akhirnya dapet giliran pinjem buku ini juga, setelah sebulan mengantri. Saking populernya, saya juga nggak kepingin ketinggalan hype-nya dong, biar kalau diajak ngobrol nyambung. Karena saya nggak bisa menonton filmnya, jadi saya baca bukunya.

Awalnya saya kira kalimat-kalimat dalam bukunya bakal panjang-panjang dan puitis, karena kutipan-kutipannya yang banyak orang bilang romantis sudah tersebar ke mana-mana. Ternyata tulisannya pendek-pendek, ringan, dan sederhana. Cepat selesai dibaca. Walaupun pada awalnya saya bingung dengan percakapannya.

Percakapan dalam buku ini pendek-pendek kalimatnya. Yang membuat saya bingung adalah karena ini berupa bacaan, saya tidak bisa membayangkan seperti apa kalimat-kalimat ini diucapkan. Pengaruh logat dalam pengucapan diperlukan untuk memahami kalimat percakapannya. Karena saya belum terbiasa, jadi saya bingung. Tapi lama-lama terbiasa juga.

Sepertinya gap-budaya dan gap-generasi berpengaruh dalam memahami cerita ini. Sewaktu Dilan dan Milea SMA, saya belum lahir. Jadi, saya butuh waktu untuk mencerna penggambaran situasi, percakapan, dan adegannya.

Penulisannya secara keseluruhan oke sampai akhir. Lucu dan menghibur. Gombalan Dilan beneran bikin ketawa. Tapi kalau ada yang bilang buku ini romantis dan bikin baper, saya nggak merasakannya. Apa mungkin karena saya pernah ketemu orang yang lebih bikin saya ngakak? Bisa jadi. Pengalaman juga bikin penangkapan ceritanya berbeda.

Dilan dan Milea memang orang-orang antimainstream. Hebat juga Milea bisa paham apa yang Dilan omongin. Kalau saya pasti bakal pake "hah?" dulu sebelum paham dan ketawa, jadi ketawa saya akan ter-delay. Terus garing. Terus canggung. Ah, emang si Hani nih, nggak mudengan orangnya.

Pada intinya: penulisannya singkat, kalimatnya sederhana, percakapannya lucu, adegannya menghibur, tapi ceritanya biasa aja dan datar. Tak apa. Yang penting saya sekarang sudah baca. Biar kekinian.

View all my reviews

Komentar