Rabu, 26 Juli 2017

[Book Review] The Bad Beginning by Lemony Snicket

The Bad Beginning The Bad Beginning by Lemony Snicket (A Series of Unfortunate Events #1)
Published: 1999
E-book, English edition, 178 pages
My rating: 4 of 5 stars

Blurb:
Dear Reader,

I'm sorry to say that the book you are holding in your hands is extremely unpleasant. It tells an unhappy tale about three very unlucky children. Even though they are charming and clever, the Baudelaire siblings lead lives filled with misery and woe. From the very first page of this book when the children are at the beach and receive terrible news, continuing on through the entire story, disaster lurks at their heels. One might say they are magnets for misfortune.

In this short book alone, the three youngsters encounter a greedy and repulsive villain, itchy clothing, a disastrous fire, a plot to steal their fortune, and cold porridge for breakfast.

It is my sad duty to write down these unpleasant tales, but there is nothing stopping you from putting this book down at once and reading something happy, if you prefer that sort of thing.

With all due respect,
Lemony Snicket


Ulasan:
Aku membaca ulang seri ini setelah mendengar kabar bahwa seri ini akan dibuat serial televisinya. Pertama kali aku membaca kisah ini adalah ketika aku seumuran Klaus Baudelaire. Buku yang kubaca saat itu adalah versi Bahasa Indonesia. 



Seri ini juga pernah dibuat filmnya yang menggabungkan buku pertama hingga ketiga sekaligus. Ketika aku menonton filmnya, aku merasa ada banyak hal di buku yang diabaikan di filmnya, sehingga rasanya ceritanya jadi lebih singkat. Sebelum aku menonton serial televisinya, lebih baik aku membaca ulang bukunya untuk mengetahui apa yang akan kutonton nanti. Kali ini aku membaca versi Bahasa Inggris.

Versi terjemahannya masih bisa kuingat sedikit-sedikit, karena ternyata diterjemahkan semirip mungkin dengan kata versi Bahasa Inggris. Kesan bacanya masih sama. Padahal sudah bertahun-tahun berlalu.

Tiga orang anak dari keluarga berada, Violet, Klaus, dan Sunny Baudelaire tak pernah membayangkan kalau orang tua mereka meninggal dalam kebakaran hebat yang juga menghabiskan rumah mereka. Mr. Poe, orang dari bank yang juga mengurus harta keluarga Baudelaire menjemput mereka bertiga ketiga sedang bermain di pantai pada hari yang mendung. Violet adalah gadis penemu berusia empat belas tahun. Klaus, yang berusia lebih muda dua tahun dari pada Violet adalah seorang anak laki-laki kutu buku. Sunny, si bungsu, masih bayi. Tapi Sunny adalah bayi perempuan dengan gigi-gigi yang tajam.

Aku kagum dengan penggambaran mereka bertiga ketika menerima berita bahwa mereka tiba-tiba yatim piatu. Mereka tidak menangis atau histeris. Kaget, ya. Sedih, ya. Tapi masih dalam batas wajar. Bahkan mereka terkesan lebih dewasa dari pada orang dewasa. Yang menarik adalah, bahwa narator kisahnya berkali-kali menjelaskan: "Kisah yang sedang kaubaca ini adalah kisah yang sedih. Jika ingin membaca kisah yang membahagiakan, sebaiknya baca buku lain." atau semacamnya. Awalnya hal ini membuatku terkesan, karena ketika orang lain membuat cerita anak yang bersifat menghibur, buku ini malah menawarkan kisah nelangsa tiga anak yatim piatu. Tapi lama-kelamaan, peringatan ini menjemukan. Aku jadi sengaja melewati baris penjelasan ini ketika membaca.

Jadi singkatnya, Mr. Poe mengharuskan ketiga anak itu diasuh oleh keluarga dekatnya sebelum harta warisan dari orang tua mereka bisa diakses oleh mereka bertiga. Harta itu hanya bisa mereka terima setelah Violet berusia delapan belas tahun. Ketiga bersaudara Baudelaire itu hanya bisa menurut pada Mr. Poe. Apalah yang bisa dilakukan oleh tiga anak yatim piatu tanpa rumah. Tapi ternyata kerabatnya malah orang yang tidak mereka kenal.

Count Olaf, orang yang ditunjuk menjadi pengasuh Baudelaire bersaudara, adalah seorang aktor teater yang tidak terkenal. Rumahnya sangat kotor dan berantakan. Sikapnya juga sangat menjengkelkan. Aku sampai heran, memangnya ada orang dewasa yang seperti Count Olaf, yang sifat jahatnya rada kekanakan. Tapi memang buku ini targetnya adalah anak-anak, jadi penggambaran jahat dan baik dituliskan sejelas mungkin. Ketiga bersaudara Baudelaire harus tidur di satu kamar dengan satu tempat tidur. Setiap hari mereka harus melakukan tugas yang disuruh oleh Count Olaf. Mereka bertanya-tanya dan mengeluh, apakah benar orang tua mereka meninggalkan mereka pada orang aneh yang jahat ini.

Suatu ketika niat Count Olaf yang sebenarnya terbongkar. Ia ingin menguasai harta keluarga Baudelaire. Kuakui, rencana hebat Count Olaf memang jahat dan menjijikkan. Ketiga anak itu panik dan takut, tapi tak bisa minta tolong, karena mereka akan sulit dipercaya. Siapa yang bakal percaya anak-anak? Orang dewasa bakal menganggap mereka mengada-ada. Jadi mereka harus menyusun rencana sendiri untuk membongkar rencana jahat Count Olaf.

Rasanya gemas dan gregetan ketika orang dewasa tidak percaya pada ketiga anak itu. Ketika pertama kali membaca kisah ini sewaktu kecil, aku bertekad agar kalau sudah besar nanti, aku tidak bakal menganggap remeh anak-anak. Sekarang, aku diingatkan kembali akan hal itu. Aku juga jadi sadar kalau anak-anak memiliki kejujuran yang polos, yang harusnya bisa dipercayai dengan mudah oleh orang dewasa. Hanya saja, anak-anak kadang kesulitan untuk mengomunikasikannya. Jadi hikmahnya adalah, dengarkan orang lain sampai selesai, bahkan jika mereka adalah anak-anak sekalipun.


View all my reviews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...