Sabtu, 24 Juni 2017

[Book Review] Size 14 Is Not Fat Either by Meg Cabot

Size 14 Is Not Fat EitherSize 14 Is Not Fat Either by Meg Cabot
Published: 2006
My rating: 4 of 5 stars
E-book, English edition, 344 pages

Blurb:
Former pop star Heather Wells has settled nicely into her new life as assistant dorm director at New York College—a career that does not require her to drape her size 12 body in embarrassingly skimpy outfits. She can even cope (sort of) with her rocker ex-boyfriend's upcoming nuptials, which the press has dubbed The Celebrity Wedding of the Decade. But she's definitely having a hard time dealing with the situation in the dormitory kitchen—where a cheerleader has lost her head on the first day of the semester. (Actually, her head is accounted for—it's her torso that's AWOL.)

Surrounded by hysterical students—with her ex-con father on her doorstep and her ex-love bombarding her with unwanted phone calls—Heather welcomes the opportunity to play detective . . . again. If it gets her mind off her personal problems—and teams her up again with the gorgeous P.I. who owns the brownstone where she lives—it's all good. But the murder trail is leading the average-sized amateur investigator into a shadowy world. And if she doesn't watch her step, Heather will soon be singing her swan song!

Ulasan:
Masih bersama Heather Wells, si mantan selebritis yang tidak meneruskan karir menyanyinya. Ia sudah bekerja cukup lama sebagai asisten direktur asrama mahasiswa di New York, jadi ia bisa memperoleh beasiswa untuk kuliah di tempatnya bekerja. Sayangnya, ia harus mengulang ujian matematika. Tempatnya bekerja mendapatkan bos baru. Dan reputasi tempatnya bekerja jadi buruk karena ada kasus yang diceritakan di buku sebelumnya.

Rabu, 21 Juni 2017

[Book Review] Size 12 Is Not Fat by Meg Cabot

Size 12 Is Not Fat Size 12 Is Not Fat by Meg Cabot
Published: 2005
My rating: 4 of 5 stars
E-book, English edition, 345 pages

Blurb:
Heather Wells Rocks!

Or, at least, she did. That was before she left the pop-idol life behind after she gained a dress size or two — and lost a boyfriend, a recording contract, and her life savings (when Mom took the money and ran off to Argentina). Now that the glamour and glory days of endless mall appearances are in the past, Heather's perfectly happy with her new size 12 shape (the average for the American woman!) and her new job as an assistant dorm director at one of New York's top colleges. That is, until the dead body of a female student from Heather's residence hall is discovered at the bottom of an elevator shaft.

The cops and the college president are ready to chalk the death off as an accident, the result of reckless youthful mischief. But Heather knows teenage girls . . . and girls do not elevator surf. Yet no one wants to listen — not the police, her colleagues, or the P.I. who owns the brownstone where she lives — even when more students start turning up dead in equally ordinary and subtly sinister ways. So Heather makes the decision to take on yet another new career: as spunky girl detective!

But her new job comes with few benefits, no cheering crowds, and lots of liabilities, some of them potentially fatal. And nothing ticks off a killer more than a portly ex-pop star who's sticking her nose where it doesn't belong . . .

Ulasan:
Kalau melihat judulnya, aku membayangkan ceritanya bertipe metropop-chicklit dengan tokoh utama perempuan dewasa yang bekerja di bidang fashion. Ternyata aku salah.

Sabtu, 17 Juni 2017

[Book Review] Adulthood Is a Myth by Sarah Andersen

Adulthood Is a Myth Adulthood Is a Myth by Sarah Andersen
Publisher: Andrews McMeel Publishing (2016)
My rating: 4 of 5 stars
E-book, English edition, 109 pages

Blurb:
Are you a special snowflake? 

Do you enjoy networking to advance your career? 

Is adulthood an exciting new challenge for which you feel fully prepared? 

Ugh. Please go away.

This book is for the rest of us. These comics document the wasting of entire beautiful weekends on the internet, the unbearable agony of holding hands on the street with a gorgeous guy, dreaming all day of getting home and back into pajamas, and wondering when, exactly, this adulthood thing begins. In other words, the horrors and awkwardnesses of young modern life. 

Ulasan:
Ini bukan komik. Lebih seperti doodle art. Gambarnya sederhana. Pesan yang disampaikan juga simple dan straightforward. Tapi ngena banget dengan kehidupan sehari-hari dewasa muda. Terutama perempuan. Dan para introvert.

Rabu, 14 Juni 2017

[Book Review] Biro Hukum [The Firm] oleh John Grisham


Biro Hukum [The Firm] oleh John Grisham
Alih bahasa: Hidayat Saleh
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2001)
My rating: 4 of 5 stars
Paperback, edisi Bahasa Indonesia, 712 hlm.

Blurb:
Ia termasuk lima besar di kelasnya di Harvard Law School. Tawaran pekerjaan mengalir dari biro-biro hukum terbaik di Amerika. Tapi pilihannya justru membawa bencana.

Ketika Mitch McDeere memutuskan bekerja pada biro hukum Bendini, Lambert dan Locke di Memphis, ia mengira jalan menuju kesuksesan telah terbuka bagi dirinya dan istrinya yang cantik, Abby. Biro itu membelikan BMW baginya, membayar pinjaman-pinjamannya, membantunya membeli rumah sekaligus mendekornya. Mitch McDeere seharusnya ingat kata-kata Ray, kakaknya yang sedang menjalani hukuman lima belas tahun penjara di Tennessee. Tak ada yang cuma-cuma di dunia ini. Tiba-tiba FBI tertarik untuk menyelidiki biro itu, dan mereka membutuhkan bantuan Mitch. Mitch pun terjepit di antara dua pilihan. Ia harus membuat keputusan kalau ingin tetap hidup.

Ulasan:
Aku sudah sangsi akan bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat. Walaupun bukunya berukuran kecil, tapi tebalnya lebih dari 600 halaman. Apalagi temanya adalah tentang hukum, yang notabene bukan bidangku. Tapi aku menyukai keseruan dan ketegangan, dan buku ini menyajikan keduanya. Selain itu, buku ini ditulis oleh penulis favoritku. Ternyata tidak terlalu membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya, tidak seperti dugaanku sebelumnya. Habisnya, begitu mulai membaca, susah sekali untuk berhenti.

Sabtu, 10 Juni 2017

[Book Review] Misteri Patung Garam oleh Ruwi Meita

Misteri Patung Garam Misteri Patung Garam oleh Ruwi Meita
Penerbit: GagasMedia (2015)
My rating: 5 of 5 stars
Paperback, edisi Bahasa Indonesia, 284 hlm.

Blurb:
Dia sangat sadis. Dan, dia masih berkeliaran.

Seorang pianis ditemukan mati,
terduduk di depan pianonya, dengan bibir terjahit.
Bola matanya dirusak, meninggalkan lubang hitam yang amat mengerikan.
Rambut palsu merah panjang menutupi kepalanya.
Sementara, otak dan organ-organ tubuhnya telah dikeluarkan secara paksa.

Kulitnya memucat seputih garam.
Bukan, bukan seputih garam.
Tapi, seluruh tubuh sang pianis itu benar-benar dilumuri adonan garam.

Kiri Lamari, penyidik kasus ini,
terus-menerus dihantui lubang hitam mata sang pianis.
Mata yang seakan meminta pertolongan sambil terus bertanya,
kenapa aku mati?
Mata yang mengingatkan Kiri Lamari akan mata ibunya.
Yang juga ia temukan tak bernyawa puluhan tahun lalu.

Garam? Kenapa garam?

Kiri Lamari belum menemukan jawabannya.
Sementara mayat tanpa organ yang dilumuri garam telah ditemukan kembali….

Dia sangat sadis. Dan, dia masih berkeliaran.

Ulasan:
Setelah selesai membaca buku ini rasanya seperti habis berbuka puasa. Suka banget! Karena sudah lama tidak membaca buku, begitu selesai membaca buku ini rasanya puas sekali dan aku jadi menemukan lagi kenikmatan membaca dan membuat ulasan. Walaupun sebetulnya cerita buku ini agak bikin mules juga, sih. Hahahaa…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...