Sabtu, 19 November 2016

Kelas Dua di Malory Towers oleh Enid Blyton

Kelas Dua di Malory Towers (Malory Towers, #2)Kelas Dua di Malory Towers by Enid Blyton
My rating: 4 of 5 stars
Alih Bahasa: Djokolelono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (1984)
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 240 hlm.

Blurb:
Darrell, Sally, Gwendoline, Mary-Lou and all the other girls from the First Term at Malory Towers are now in the second form and they are as lively as ever. Mam'zelle Dupont is still trying to be strict, Alicia plays a terrible trick with invisible chalk and Gwendoline and Daphne inevitably get into trouble.

Review:
Kisah Darell masih berlanjut. Setelah buku pertama selesai dengan berakhirnya semester pertama Darell di Malory Towers, di buku kedua ini Darrel dan kawan-kawan masuk sekolah lagi. Mereka sekarang sudah kelas dua. Dan ada murid-murid baru! Belinda yang pelupa tapi pandai menggambar, Ellen yang pintar tapi ketus, dan Daphne yang cantik tapi menjengkelkan.


Jumat, 18 November 2016

Semester Pertama di Malory Towers oleh Enid Blyton

Semester Pertama di Malory Towers (Malory Towers, #1)Semester Pertama di Malory Towers by Enid Blyton
My rating: 3 of 5 stars
Alih Bahasa: Djokolelono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (1984)
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 248 hlm.

Blurb:
DARRELL RIVERS mulai bersekolah di Malory Towers sekolah berasrama di tepi pantai, khusus untuk anak perempuan, di mana tenis dan renang merupakan kegiatan utama. Dengan cepat ia bisa menyesuaikan diri, memperoleh beberapa teman baru, termasuk Alicia yang nakal tapi cerdas dan gemar melakukan berbagai muslihat untuk menjebak guru-gurunya. Tetapi dalam semester pertamanya Darrel tidak selamanya gembira.

Banyak persoalan pelik yang harus dihadapinya : sifatnya yang suka tak bisa mengendalikan diri bila marah, sikap Sally Hope yang aneh, dan godaan keterlaluan terhadap Mary Lou.

Review:
Buku ini dulu punya tantenya Hani, yang kemudian diwariskan ke Hani. Sekarang yang baca nggak cuma Hani tapi adik-adik Hani juga. Sebetulnya Hani sudah lama bacanya, dan baca ulang pun sudah berkali-kali, tapi Hani sedang dalam mood ingin bernostalgia. Hani kira buku pertama dan keduanya sudah terbit review-nya di blog ini, tapi ternyata belum. Padahal buku ketiga dan keempatnya sudah terbit review-nya. Hehehee..

Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?

Senin, 31 Oktober 2016

Book-Related & Posbar BBI 2016 Oktober: Penulis yang Beken dengan Karya Supernatural-nya

Halo~! Happy October~!

Bulan Oktober di dunia barat sana identik dengan perayaan Hari Halloween. Walaupun di Indonesia nggak ada budaya begitu, tapi tema supernatural tetap melekat di bulan Oktober. Karena itulah, Posbar BBI 2016 bulan Oktober ini bertema ‘Supernatural’. Hani akan membahas tentang penulis-penulis yang beken karena karya-karyanya yang berbau supernatural untuk ikut menyemarakkan Posbar BBI bulan ini.

Penulis yang Hani bahas di sini nggak hanya penulis novel saja, tapi ada juga yang beken karena gambarnya. Yup, selain novel, genre yang berbau supernatural juga populer dalam bentuk komik, webtoon, dan adaptasi drama televisi. Sebagian besar Hani ketahui karena Hani memang membaca karya-karyanya. Yuk, kita simak bareng-bareng!

Sabtu, 29 Oktober 2016

Makan Malam Bersama Dewi Gandari oleh Indah Darmastuti

Makan Malam Bersama Dewi GandariMakan Malam Bersama Dewi Gandari by Indah Darmastuti
My rating: 3 of 5 stars
Penerbit: Bukukatta (2016)
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 127 hlm.

Blurb:
Waktu adalah faktor penting dalam permainan 
Waktu menguasai irama pada gerak, pada pertemuan dan percakapan

Dari pertemuan dan percakapan, manusia melahirkan kisah dan mengungkapkan dirinya dalam kuasa waktu, sebagai manusia yang perlu berbahagia, sebagai manusia yang dirundung duka lara, sebagai manusia sial atas nasib, sebagai manusia yang harus memberikan perhitungan atas nasib hidupnya.

Dan tak pelak lagi, semua ini semakin mengkristal dalam sosok-sosok perempuan. Seorang perempuan atau tokoh perempuan dalam banyak kasus adalah yang paling merasakan penderitaan tiap-tiap perjuangan kemanusiaan, bahkan sering menjadi korban-korbannya seperti yang menggema dalam kisah-kisah Indah di buku ini.

Aku mungkin hanya ingin membaca cerita-cerita Indah di buku ini dalam gerak perlintasan sastra Indonesia yang sudah memasuki ruang pasca-Indonesia—kata yang dipopulerkan Romo Mangunwijaya. Dan, sebagaimana aku membaca Romo Mangunwijaya, Indah juga begitu banyak mengambil arus kemanusiaan yang menjadi serat dasar kisah-kisahnya, tentu saja dengan intensitas yang berbeda.

Indah Darmastuti lahir dan tinggal di Solo. Mengasuh kegembiraan dan mengasah kegemaran bersama teman-teman Buletin Sastra Pawon-Solo. Menerbitkan novel: Kepompong (2006) dan kumpulan novelette: Cundamanik (2012).

Review:
Tulisan-tulisan yang terdapat dalam kumpulan cerpen ini semuanya sangat indah, seindah nama penulisnya. Hanya dengan kumpulan karakter yang jumlahnya tak seberapa, mampu memerangkap sebanyak mungkin bentuk emosi di dalamnya. Memang ada banyak kegetiran, tapi bentuk perasaan lain yang mendalam juga terungkap dalam beberapa cerpen lainnya.

Selasa, 25 Oktober 2016

Pemuda Berongga oleh Jonathan Stroud (Lockwood & Co. #3)

The Hollow Boy - Pemuda Berongga (Lockwood & Co. #3)The Hollow Boy - Pemuda Berongga by Jonathan Stroud
My rating: 5 of 5 stars
Judul Asli: The Hollow Boy (Lockwood & Co. #3)
Alih Bahasa: Poppy D. Chusfani
Editor: Primadona Angela
Desain Sampul: Olvyanda Ariesta
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2016)
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 440 hlm.

Blurb:
Hantu di loteng? Arwah gentayangan di kamar? Jangan takut––ada Lockwood & Co.!

Anthony penuh pesona, George banyak akal, dan Lucy dinamis, sementara si tengkorak rajin melontarkan komentar-komentar sinis. Setelah Anthony buka-bukaan tentang masa kecilnya, suasana di antara mereka jadi lebih cair, dan Lucy semakin betah di Portland Row. Karena itu ia terkejut ketika George memperkenalkannya pada Holly Munro, asisten baru yang super efisien dan terlalu lincah sehingga menyebalkan.

Sementara itu, mereka menerima banyak laporan tentang penampakan, termasuk jejak kaki berdarah dan anak laki-laki berkilau di rumah tua. Namun, hantu sepertinya bukan masalah terbesar, sebab ada pembunuh yang berusaha melenyapkan Fittes dan Rotwell.

Berbagai kengerian menanti mereka--dan, menunggu di pusat segala kekacauan itu, ada makhluk gaib yang sangat menakutkan. Mampukah Anthony dan rekan-rekannya menyisihkan masalah pribadi di antara mereka untuk menyelesaikan berbagai kasus?

Tokoh-tokohnya fantastis, aksinya seru. - Guardian

Review:
Lockwood: “Aku tidak tahu di mana Sumber-nya. Ada gagasan?”
George: “Ya. Aku lapar. Sebaiknya kita makan.”
Lucy: “Bagaimana mungkin kau bisa memikirkan makanan sekarang?”
George: “Mudah saja. Ketakutan meningkatkan seleraku.”
---hlm. 41


Hani masih gemetaran ketika menulis ini. Jantung masih berdetak cepat, adrenalin membanjir, dan keringat dingin mengucur deras. Maaf agak lebay, tapi hal itu sepenuhnya benar. Sejauh ini, buku ketiga seri Lockwood & Co. adalah yang terbaik. Hani sangat menyukainya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...