Jumat, 28 Februari 2014

Bliss

Judul: Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1)
Penulis: Kathryn Littlewood
Alih bahasa: Nadia Mirzha
Cover art: Iacopo Bruno
Penerbit: Mizan Fantasi PT Mizan Publika
Tahun terbit: 2012
Paperback, 320 hlm

"Aku tak tahu resep-resepnya... seperti itu," kata Rose. Dia menunduk mengamati catatannya. Secangkang-ek biji-bijian hitam? Panas setara tujuh nyala api? Dalam waktu enam lagu? "Aku tak habis pikir apa maksud takaran-takaran ini." - hlm. 78 -

Toko Roti Bliss adalah toko roti milik keluarga Bliss, toko roti favorit warga Calamity Falls. Toko roti ini menyediakan roti-roti yang secara ajaib dapat membuat orang bahagia atau menyembuhkan keanehan-keanehan pembelinya. Albert dan Purdy Bliss, suami-istri yang mengelola toko roti itu memiliki empat orang anak: Thyme (Ty) yang tampan, Rosemary (Rose) yang sangat ingin menjadi pembuat roti, Sage yang suka melucu, dan Parsley (Leigh) yang menggemaskan. Rose adalah satu-satunya anak yang memiliki perhatian khusus terhadap keahlian keluarga Bliss sebagai pembuat roti, dan karena pengamatannya yang jeli, Rose hampir yakin bahwa toko roti Bliss yang dikelola orang tuanya ternyata menggunakan sihir.

Suatu ketika secara mendadak Albert dan Purdy diminta untuk membuatkan kue yang dapat meredakan wabah flu di kota dan hal itu mengharuskan mereka untuk meninggalkan keempat anaknya di rumah selama seminggu. Rose diberi tanggung jawab untuk menjaga kunci perpustakaan yang menyimpan buku resep roti-roti ajaib milik keluarga Bliss, yaitu Bliss Cookery Booke. Secara tiba-tiba pula, seorang bibi dari kerabat jauh keluarga Bliss datang ke toko roti dan menawarkan bantuan selama orang tua Rose tidak ada.

Bibi Lily yang cantik memesona saudara-saudara laki-laki Rose, yaitu Ty dan Sage, dan mereka berebutan mencari perhatian bibinya. Rose tadinya bersikukuh menjaga buku resep ajaib itu, tetapi karena desakan saudaranya dan pesona bibinya, ia akhirnya luluh juga. Rose dan Ty kemudian mencoba membuat roti dari buku resep ajaib itu untuk ditunjukkan pada bibinya agar dapat diketahui apakah bibinya bisa dipercaya atau tidak.

UK edition
Ketika ternyata resep roti yang mereka buat menimbulkan banyak masalah, Bliss bersaudara menjadi bimbang. Apa yang harus mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul di Calamity Falls? Haruskah mereka meminta bantuan orang tua mereka dengan resiko akan dimarahi habis-habisan? Ataukah mereka harus meminta bantuan pada Bibi Lily? Apakah Bibi Lily bisa dipercaya?

Cover buku ini (versi terjemahan / Indonesia) betul-betul memiliki daya pikat yang luar biasa dan membuat orang menjadi penasaran. Itulah yang terjadi padaku. Awalnya aku tahu buku ini dari sebuah review waktu blog-walking, yang sayangnya aku lupa di blog siapa aku baca reviewnya, dan disitulah kulihat cover buku ini yang begitu memikat, ditambah nama-nama Bliss bersaudara yang merupakan rempah-rempah, membuatku begitu ingin memilikinya. Well, dengan 'sedikit' alibi bahwa aku membelikannya untuk kado adikku, ternyata adikku suka dan karena kami berbagi buku berkat selera kami yang sejenis, buku ini menjadi semacam buku keluarga. Rose sebagai tokoh utama dan aku mirip satu sama lain, jadi mungkin review ini akan sedikit membeberkan karakterku dan Rose (narsis nih yee...).

Karakter:
Rose adalah anak kedua di keluarga Bliss, seorang gadis 12 tahun yang memiliki perhatian khusus terhadap pembuatan kue-kue di Toko Roti Bliss. Ia ingin suatu saat nanti menjadi ahli sihir dapur dan dapat membuat kue yang menjadi kebanggaan di Calamity Falls seperti kedua orang tuanya. Ia memiliki kakak laki-laki yang tampan dan terobsesi menjadi atlet, Ty, dan dua orang adik, Sage adik laki-lakinya adalah replika Ty yang lebih kecil dan Leigh adik perempuannya yang masih balita merupakan replika Rose waktu kecil, jadi keluarga Bliss cukup ramai (just like me, there are 7 people in my family, I have 2 little brothers and 2 little sisters, maybe that's why I understand what Rose feels).

Rose sebagai anak kedua bahkan lebih bisa diandalkan daripada Ty, kakaknya, untuk mengurus toko, mungkin karena Ty tidak berminat untuk membuat roti. Tapi Rose juga tidak mampu menangani toko sendirian, jadi kepercayaan saudara-saudaranya padanya membantunya membangkitkan rasa percaya dirinya, dan bahkan saudara-saudaranya mengandalkannya karena ialah satu-satunya Bliss bersaudara yang bisa membuat roti. Bliss bersaudara dapat bersatu saat kedua orang tua mereka tidak ada. Seperti yang Rose ungkapkan dalam percakapannya di telepon dengan ibunya:
"Selain itu," sahut Rose, "mungkin terlalu dini untuk menyebutkannya, tapi kurasa aku, Ty, dan Sage sekarang berteman."
Purdy tertawa. "Bagus sekali, Sayang. Apa yang terjadi?"
(...)
"Kurasa pekerjaan membuat roti membuat kami dekat."
"Ya, itulah yang menjadikan proses membuat roti menjadi ajaib, Rose." - hlm. 201 -
Itu adalah sebagian kecil hal yang bisa menyatukan keluarga, dan Rose menyadarinya. Kebetulan, sering kali aku dan adik-adikku memasak bersama tanpa melibatkan orang tua kami, walaupun hanya sekedar membuat jelly atau puding, dan hal itu merupakan suatu cara untuk refreshing yang unik menurutku. Bliss bersaudara memiliki cara yang unik untuk menunjukkan kepedulian mereka satu sama lain. Ucapan terima kasih dan pelukan adalah komunikasi sederhana untuk menunjukkan rasa peduli dan sayang antar saudara tanpa harus banyak berkata-kata.

US and Indonesia front and back cover
Plot:
Kisah buku ini yang bertabur sihir membuatnya menjadi fantasi yang imajinatif. Lagi-lagi karena pengaruh covernya, cerita keluarga Bliss ini kubayangkan dalam animasi tiga dimensi. Hal ini cukup ampuh dan lucu untuk membayangkan berbagai keanehan yang muncul karena kekeliruan Rose dan Ty dalam menerjemahkan resep menjadi roti yang ternyata menimbulkan malapetaka, karena membayangkan kisah ini dalam film yang dimainkan aktor ternyata malah jadi canggung dan kurang seru (apa imajinasiku yang kurang 'wow' ya?). Kalau nantinya kisah keluarga Bliss diangkat ke layar perak, penginnya sih dibuat animasi tiga dimensi, jadi bling-bling sihirnya dan warna-warni serta lezatnya roti-roti Bliss bisa terasa sampai ke perut (*eh?).

Germany edition
Kisah Bliss sebetulnya sederhana, yaitu tingkah Bliss bersaudara ketika ditinggal oleh kedua orang tuanya dan diberi tanggung jawab menjaga toko roti selama mereka pergi, tapi apapun bisa terjadi bahkan di toko roti kecil di kota kecil seperti Calamity Falls. Dalam cerita dikisahkan bagaimana anak-anak memecahkan masalah yang mereka timbulkan tanpa bantuan orang tua mereka. Hubungan antar saudara dan rasa kekeluargaan yang manis membuatku merasa hangat setelah membaca buku ini, dan dalam hati berbisik, I love my family :)

Secara umum, ceritanya sambung-menyambung dengan konflik yang berurutan penceritaannya. Nggak bisa berhenti sebelum selesai dan gampang 'mengunyah'nya dalam otak. Maksudku, ceritanya ringan, mudah dipahami, dan pas banget sebagai selingan yang menghibur. Kota kecil semacam Calamity Falls tidak selamanya membosankan. Kalau mau melihat lebih jeli, sebetulnya banyak hal yang bisa diamati dan tidak biasa di sebuah kota kecil sekalipun, yang ternyata penuh dengan petualangan. Terkadang kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri sehingga kurang memperhatikan keadaan di sekitar kita. Biasanya kita kemudian tersadar ketika situasi tidak seperti biasanya. Karena keadaan yang tidak biasa itulah, Rose menyadari bahwa sebetulnya ia memiliki kakak dan adik yang menyayanginya, dan jika ia mau mengamati lebih jeli, kota kecil semacam Calamity Falls memiliki kejutan yang membuat kehidupannya disini menjadi menarik. 

Penulisan:
Bliss ditulis dengan sudut pandang orang ketiga dan menyoroti Rose sebagai tokoh utama. Alur ceritanya maju sehingga mudah dipahami. Tulisan unik di dalam buku yang menggambarkan catatan Rose atau tulisan di buku resep dibedakan dengan tulisan utama ceritanya, sehingga sebagai buku untuk anak, buku ini jadi menarik. Penulis senang memasukkan humor dalam percakapan atau beberapa ironi yang membuat buku ini jadi lucu. Selain itu, deskripsi dan penuturan aksi juga jelas, jadi momen-momen sweet dan cita rasa kekeluargaannya terasa. Buku ini cocok untuk kado ulang tahun adik atau kerabat kelas 5 atau 6 SD dan SMP yang suka membaca.

Resep ajaib keluarga Bliss sepertinya asyik kalau bisa diwujudkan. Walaupun sihirnya jelas tidak mungkin bisa terjadi, tapi pastry dan cake yang digambarkan sangat enak di buku bikin kepingin. Ehm, kira-kira kalau Bliss Cookery Booke diterbitkan bisa nggak ya? Pengen ikutan coba bikin kue ajaibnya nih, hehehee... Petualangan Bliss bersaudara di kelanjutan ceritanya juga patut disimak lho, jadi harus mempersiapkan diri untuk resep-resep roti yang baru dan jangan lupa sikat gigi habis makan roti manis yaa... :) 

Tentang Penulis:
Kathryn Littlewood is a writer, actress, comedienne, and bon vivant who lives in New York City, works often in Los Angeles, and has a sweet tooth for pain au chocolat and sweet novels for middle-grade readers.

http://www.littlewoodbooks.com/  
 
The Bliss Bakery Trilogy:
1. Bliss
2. A Dash of Magic
3. Bite-Sized Magic


----------**********----------
Submitted to:
Februari: Kuliner

6 komentar:

  1. Lumaya banyak yang review buku ini ya, aku suka banget bukunya, unyu luar dalam! :D

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-macaroon-love/

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa, soalnya covernya itu godaan beraaatt.. :D

      Hapus
  2. Wah, cover yg Germany edition bagus, yaa
    Aku juga review buku ini, tapi gak gitu suka ^^,

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin karena ceritanya datar ya.. tapi menurutku boljug sih, buat anak-anak terutama.. :D

      Hapus
  3. selain cover indonesia, cover yg versi jerman juga bagus ya :) aku masih ada buku ini (dan sekuelnya) di timbunan XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. covernya emang amat sangat unyu.. :) hehehee, ini aq baca juga karena ada baca bareng tema kuliner, pinjem adek pula.. wkwk

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...