Minggu, 06 April 2014

Hantu Doyan Nulis


taken from here
Judul: Hantu Doyan Nulis
Judul Asli: Ghost Writer
Penulis: Julia Jarman (2002)
Alih bahasa: Widati Utami
Penerbit: C Publishing – PT Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2006
Paperback, 234 hlm

“Sebaiknya kita terlihat seolah-olah punya rasa percaya diri, bahkan pada saat kita tidak memiliki kepercayaan diri.” – hlm.5 –

Frankie Ruggles sudah sering berpindah-pindah sekolah karena kondisinya. Di sekolahnya yang terakhir ini, ia ingin –paling tidak– tidak mengecewakan. Ia berharap St. Olaf dapat menerima murid seperti dirinya. Apa yang salah dengan dirinya? Yah, ia sudah kelas 6 tapi tulisan tangannya buruk dan masih belum bisa mengeja dan membaca dengan baik. Ia disleksia.

Hari pertama di sekolah ia sudah membuat kacau –menurut perasaannya. Ia salah masuk kelas dan sepertinya ia membuat kehebohan di kelas yang salah dimasukinya. Saat istirahat siang, rumor beredar. Di ruang kelas 9 yang salah dimasukinya tadi ada lemari yang konon berhantu. Lemari itu suka tiba-tiba terbuka sendiri dan ada angin dingin bertiup dari dalamnya menerbangkan kertas-kertas dan menjatuhkan buku-buku, dan tahu-tahu ada yang tertulis di papan tulis. Hal itulah yang terjadi pagi itu ketika Frankie masuk. Tapi ada hal yang dilihatnya dan tak seorangpun melihat apa yang dilihatnya. Ia melihat seorang anak laki-laki berpakaian kuno berwajah pucat dan mata sedih.

Untungnya, Frankie tidak berada di ruang kelas 9 dan tidak diajar oleh guru killer di sana, yaitu Miss Bulpit. Sayangnya, beberapa kelas di St. Olaf kebocoran sehingga beberapa ruang kelas tidak bisa dipakai. Kelas 6 harus menggunakan ruang kelas 9 dan Miss Sparks, guru kelas 6, juga harus menjalani operasi sehingga harus digantikan oleh Miss Bulpit untuk sementara waktu. Frankie sering menjadi sasaran kemarahan Miss Bulpit karena ia dianggap lamban dan malas, padahal Frankie berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Ia sudah mendapatkan teman-teman yang baik dan guru yang perhatian seperti Miss Sparks jadi ia tidak ingin pindah sekolah lagi. Ia hanya harus bertahan satu minggu dengan Miss Bulpit sampai Miss Sparks kembali. Tapi Frankie ternyata tidak hanya harus memecahkan cara bertahan dengan Miss Bulpit tapi juga harus berhadapan dengan hantu.

Hantu yang muncul pada hari pertamanya di sekolah ternyata muncul terakhir kali 25 tahun yang lalu. Siapa hantu itu? Apa yang diinginkannya? Dan kenapa hanya Frankie yang bisa melihatnya? Kenapa ia tidak berbicara? Frankie Ruggles berusaha membuktikan bahwa ia berhak menyandang predikat DTTB dan mengusut tragedi sekolah yang terjadi seratus tahun yang lalu.

What I think about this book:
Another story about disability. Anak semacam Frankie yang hidup di abad 21 ternyata masih dipandang sebelah mata karena disabilitas. Kesan yang kudapat selama membaca buku ini yaitu suram ketika adegan Miss Bulpit datang. Bagaimana bisa ada guru macam Miss Bulpit? Guru SD lagi. Kata-katanya pada Frankie itu betul-betul makjleb. Frankie sudah tahu apa kekurangannya. Ia sudah belajar semampunya. Teman-temannya bahkan memahaminya, tapi Miss Bulpit yang justru adalah orang dewasa terlalu kolot untuk menerima murid dengan disabilitas seperti dirinya. Frankie pendengar yang baik, dan menurutku, anak disleksia bisa berkembang seperti anak biasa kalau didukung, misalnya, ia bisa menyerap pelajaran dengan cara mendengarkan dengan pemahaman yang sama dengan anak yang membaca. Dan hello, ini sudah abad 21! Sedih banget baca bagian ketika Frankie di-bully Miss Bulpit.

Kenapa Frankie tidak melapor pada orang tuanya? Sebetulnya Frankie tahu ibunya akan menghajar Miss Bulpit kalau ia melapor, tapi konsekuensinya adalah ia akan pindah sekolah lagi, dan ia tidak mau itu terjadi. Masalahnya di sekolah ini hanyalah Miss Bulpit. Ia harus dapat mengatasinya. Belum lagi kisah hantu yang menerornya, serta tragedi sekolah seratus tahun yang lalu yang membayanginya.

Andersen Press
Kisah ini tidak menekankan sisi horornya. Karena itulah, sebetulnya kisah ini tidak terlalu menakutkan. Tapi deskripsinya juara bikin merinding, misalnya tahu-tahu ketika ada angin dingin masuk dan seseorang mencengkeram pundakmu padahal kau tahu hanya dirimu seorang yang ada di ruang kelas. Ohlala, merinding disko rasanya.

Kisah ini lebih menekankan perbandingan antara pendidikan jaman dulu dengan jaman sekarang di Inggris ketika ada anak dengan disabilitas di kelas. Jaman dahulu, semua anak dianggap sama, dan mungkin tidak diketahui adanya disabilitas pada seorang anak karena secara fisik baik-baik saja. Anak yang tidak pandai membaca, dihukum. Anak yang tidak bisa menulis dengan tangan kanan, dipaksa, dan karena tulisannya jelek, dihukum. Kasihan sekali. Dan ternyata, di abad 21 masih ada guru yang seperti itu. Ckckck…

Penceritaan dalam kisah Frankie menggunakan sudut pandang orang ketiga dan lebih banyak mendeskripsikan apa yang ada dalam pikiran Frankie. Frankie sering melamun dan imajinasinya aktif, dalam cerita sering dijabarkan apa yang sedang dilamunkan Frankie dan bahwa yang ada dalam benaknya tidak sama dengan apa yang ia lihat. Rasanya seru berada dalam pikiran Frankie, tapi kadang membingungkan karena yang dilamunkan Frankie kadang berbeda dengan situasi yang dihadapinya.

Penulisannya juga tidak melulu mengikuti kaidah paragraf. Bagian yang menggambarkan imajinasi Frankie ditulis sedemikian rupa sehingga kita juga bisa ikut membayangkan. Font-font tertentu juga digunakan untuk menggambarkan tulisan tangan. Dalam cerita ini, ada pesan bahwa kita harus menghargai perbedaan. Belum tentu bahwa orang yang dianggap memiliki kekurangan atau disabilitas tidak bisa mencapai apa yang orang normal bisa capai. Justru, karena kekurangannya, mereka akan berusaha untuk bisa dianggap sama.

Tentang Penulis:
Julia Jarman was born Julia Hudspeth in Deeping St James near the city of Peterborough, and now lives in Riseley, Bedfordshire. She studied English and Drama at Manchester University and then qualified as a teacher. Her first book (When Poppy Ran Away) was published in 1985. She had three children all born in the early 1970s who have influenced her writing. After her youngest daughter Mary gave birth to her first grandson Theo (born: 10 June 2001) she started to write picture books for infants. Her first picture book was Big Red Bath (2004). Mary had two more children after Theo called Maya (born: 30 September 2003) and Lois (born: 12 December 2005), which made her write more picture books: Big Blue Train; Big Yellow Digger; Class Two at the Zoo; Class Three All at Sea; Ants in Your Pants and many others.

Three of her novels, "Hangman", "Peace Weavers" and "Ghost Writer" have been nominated for the prestigious Carnegie medal. She won the Stockport Schools Book Award three times, for "Big Red Bath", "Class Two at the Zoo" and "Ghost Writer" and has been shortlisted for several other prizes.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...