Minggu, 01 November 2015

Pembunuhan di Teluk Pixy oleh Agatha Christie

Judul: Pembunuhan di Teluk Pixy
Judul Asli: Evil Under the Sun
Penulis: Agatha Christie (1941)
Penerjemah: Joyce K. Isa
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (2014)
Edisi Bahasa Indonesia, Softcover, 288 hlm.

Blurb:
Arlena Marshall yang bertubuh menggiurkan, berwajah cantik, dan berambut tebal tampak sangat mencolok di antara para penghuni Hotel Jolly Roger di Pulau Penyelundup.

Beberapa hari kemudian ia ditemukan tewas tercekik di salah satu pantai pulau itu.

Siapakah yang telah membunuh Arlena si perayu?

Apakah suaminya yang angkuh dan pendiam, yang mengetahui istrinya telah berzinah? Atauhkan anak tirinya yang aneh, yang membuat boneka lilin berwajah Arlena dan menancapinya dengan peniti? Ataukan si fanatic agama yang batinnya tersiksa karena kecantikan Arlena? Atau si pemuda tampan yang mencintainya dengan begitu terang-terangan? Atau, barangkali, salah satu wanita yang mempunyai – atau mengira mempunyai – alasan untuk menghendaki kematian Arlena?

Hercule Poirot, yang sedang berlibur di tempat terjadinya tragedi ini, bersedia mengorbankan liburannya untuk mencoba mengungkap kasus yang membingungkan ini.

Komentar:
Beri sorakan untuk Papa Poirot yang berhasil mengungkap kasus ini! Yeeeyyy~

Sekali lagi, aku terkecoh dengan alur penyelidikan dan pemikiran Papa Poirot yang nggak bisa ditebak ini dan keliru menebak pelakunya. Kejahatan yang lumayan serius, karena terjadi pas musim liburan. Ketika kejahatan terjadi dan semua penghuni hotel diinterogasi, aku terkejut karena hampir semuanya memiliki kaitan dengan si korban.

Banyaknya karakter di kisah ini juga semakin membuat kasus membingungkan, seperti kasus-kasus Papa Poirot lainnya yang selalu bertaburan karakter. Ketika para penghuni hotel membicarakan kejahatan dan Arlena, semuanya terkejut ketika terjadi kejahatan yang sesungguhnya dan melibatkan Arlena sebagai korban! Ia mati dicekik yang menyulitkan penyeilidikan dan membuat kasus ini mengerikan karena tidak ada senjata pembunuh yang bisa dijadikan pegangan.

Selain itu, kesulitan untuk menemukan pelakunya juga terletak pada motif dan kesempatan. Ada tersangka yang memiliki motif kuat, tapi punya alibi dan tidak punya kesempatan. Ada juga yang punya kesempatan, tapi motifnya hampir tidak ada atau terkesan dicari-cari. Teori-teori dikemukakan, tapi tidak sesuai dengan fakta-faktanya. Yakin deh, kalau nggak ada Papa Poirot kejahatan ini bakal lama terungkapnya. Untungnya pihak kepolisian melibatkan Papa Poirot dalam kasus ini.

Tapi ternyata Papa Poirot juga kesulitan karena tidak ada bukti. Sampai-sampai dia harus menyusun skenario agar kecurigaannya terbukti dan pelaku sebenarnya ketahuan dengan sendirinya karena keceplosan.

Di awal kisah ini juga menyinggung kasus Papa Poirot yang lain, yang juga berhubungan dengan liburan. Bahkan salah satu karakter di sini mengenal salah satu karakter di kisah Death on the Nile, dan karena itulah Papa Poirot dikenal.

Karakter yang menarik di sini adalah suami-istri Amerika, Mr. dan Mrs. Gardener. Si suami yang pendiam dan penurut, sedangkan si istri yang banyak omong ini menurutku adalah figuran yang lucu dan menyenangkan. Mereka memang agak absurd, karena si istri yang suka banget ngomong dan suaminya yang penurut cuma menimpali dengan “Ya, sayang,” waktu istrinya menanyakan pendapatnya. Disini terasa kalau Mr. Gardener seperti nggak punya karakter kalau nggak bersama istrinya. Tapi ketika bercakap-cakap sendirian dengan Papa Poirot, keduanya memiliki karakter yang menyenangkan dan sama kuat, serta memberikan jawaban yang sama ketika ditanya terpisah. Hahaa, menurutku itu kejutan kecil yang lucu.


Aku juga setuju banget dengan pendapat Miss Brewster yang ini kalau melihat Mr. dan Mrs. Gardener: “Orang-orang Amerika suami yang hebat!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...