Kamis, 14 Januari 2016

The Hunger Games oleh Suzanne Collins

goodreads
The Hunger Games oleh Suzanne Collins
Judul: The Hunger Games
Penulis: Suzanne Collins (2008)
Alih Bahasa: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2009)
Edisi Bahasa Indonesia, Softcover, 408 hlm.
Hasil Bookwar IRF 2015

Blurb:
Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah : membunuh atau dibunuh.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

Komentar:
Maybe it’s in my nature untuk selalu curhat di setiap kesempatan. Review kali ini pun juga akan banyak mengandung curhat. So, please, bear with me (kedip-kedip tjantik).



The Hunger Games menceritakan masa puluhan tahun dari sekarang, di mana kemanusiaan adalah hal yang langka. Bagi sebagian orang, Hunger Games hanyalah sebuah permainan dengan segala euphoria yang menyertainya. Tapi bagi banyak orang lain, Hunger Games adalah hidup dan mati.

Aku akan menceritakan pengalamanku berkenalan dengan seri ini. Aku tahu seri ini cukup booming sebelum keluar filmnya, tapi entah kenapa aku nggak berniat untuk membacanya. Biasalah, sok-sokan anti-mainstream gitu deh. Ketika filmnya keluar pun, masih belum ada niat untuk membaca atau menontonnya, sampai kawanku mengajak untuk menonton bersama. Nggak tanggung-tanggung, waktu itu kami menonton dari The Hunger Games sampai Catching Fire.

Setelah menonton, aku baru merasa ada yang berbeda dari seri ini. Ada konsep baru yang diusung dalam ceritanya, dan saat itu aku baru ‘ngeh’ dengan apa yang dimaksud dengan cerita fantasi dystopia. Bisa dibilang, seri ini adalah perkenalan pertamaku dengan konsep cerita fantasi dystopia.

Nggak berapa lama setelah itu, adikku memberiku kado berupa novel The Hunger Games: Catching Fire waktu ulang tahun. Karena aku belum pernah membaca The Hunger Games sebelumnya, aku menonton ulang filmnya sebelum membaca Catching Fire (review here). Ketika membacanya, aku nggak bisa berhenti membandingkannya dengan filmnya. Setelah membacanya, aku nggak bisa berhenti sampai bela-belain pinjem Mockingjay.

Novel The Hunger Games baru kudapat dari Bookwar IRF 2015. Setelah membaca The Hunger Games aku mendapat kesan yang berbeda daripada setelah menonton filmnya (dan teteup, membandingkan antara keduanya).

The Hunger Games diceritakan dari sudut pandang Katniss, cewek 16 tahun yang lugu, emosional (gampang galau dan marah), dan (untungnya) badass. Ia mengajukan diri menjadi tribute menggantikan adiknya. Dengan membaca novelnya, seluruh karakter yang dikeluarkan di sini bisa dieksplor lebih dalam: misterius dan nyebelinnya Haymitch, hebohnya Effie, berbakatnya Cinna, manisnya Rue, dan romantisnya Peeta. Di sini aku menyukai karakter Cinna yang pendiam tapi produktif dan penuh kejutan. Tapi aku sudah terlanjur jatuh hati dengan Johanna Mason yang muncul di Catching Fire karena lebih badass daripada Katniss (aku baca buku keduanya lebih dulu). Habisnya kupikir hanya dengan melihat filmnya sebelum baca buku keduanya sudah cukup, tapi ternyata nggak.

Poin plus cerita ini adalah tokoh utama yang badass (yup, I like this kind of heroine in a story). Karakter lainnya juga terbentuk penuh. Ceritanya oke, bumbu drama remajanya juga pas porsinya dan diramu dengan bagus, dan konsep ceritanya fresh and new. Sebagai permulaan dari suatu serial, buku ini cukup ‘nendang’.

Seharusnya,

Baca novelnya dulu sebelum menonton filmnya.

Dan sebaiknya,

Cerita berseri dibaca berurutan.

Sekian curhatku untuk saat ini. Thank you for reading and bearing with my inconsistency.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...