Sabtu, 29 Oktober 2016

Makan Malam Bersama Dewi Gandari oleh Indah Darmastuti

Makan Malam Bersama Dewi GandariMakan Malam Bersama Dewi Gandari by Indah Darmastuti
My rating: 3 of 5 stars
Penerbit: Bukukatta (2016)
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 127 hlm.

Blurb:
Waktu adalah faktor penting dalam permainan 
Waktu menguasai irama pada gerak, pada pertemuan dan percakapan

Dari pertemuan dan percakapan, manusia melahirkan kisah dan mengungkapkan dirinya dalam kuasa waktu, sebagai manusia yang perlu berbahagia, sebagai manusia yang dirundung duka lara, sebagai manusia sial atas nasib, sebagai manusia yang harus memberikan perhitungan atas nasib hidupnya.

Dan tak pelak lagi, semua ini semakin mengkristal dalam sosok-sosok perempuan. Seorang perempuan atau tokoh perempuan dalam banyak kasus adalah yang paling merasakan penderitaan tiap-tiap perjuangan kemanusiaan, bahkan sering menjadi korban-korbannya seperti yang menggema dalam kisah-kisah Indah di buku ini.

Aku mungkin hanya ingin membaca cerita-cerita Indah di buku ini dalam gerak perlintasan sastra Indonesia yang sudah memasuki ruang pasca-Indonesia—kata yang dipopulerkan Romo Mangunwijaya. Dan, sebagaimana aku membaca Romo Mangunwijaya, Indah juga begitu banyak mengambil arus kemanusiaan yang menjadi serat dasar kisah-kisahnya, tentu saja dengan intensitas yang berbeda.

Indah Darmastuti lahir dan tinggal di Solo. Mengasuh kegembiraan dan mengasah kegemaran bersama teman-teman Buletin Sastra Pawon-Solo. Menerbitkan novel: Kepompong (2006) dan kumpulan novelette: Cundamanik (2012).

Review:
Tulisan-tulisan yang terdapat dalam kumpulan cerpen ini semuanya sangat indah, seindah nama penulisnya. Hanya dengan kumpulan karakter yang jumlahnya tak seberapa, mampu memerangkap sebanyak mungkin bentuk emosi di dalamnya. Memang ada banyak kegetiran, tapi bentuk perasaan lain yang mendalam juga terungkap dalam beberapa cerpen lainnya.

Secara keseluruhan, cerpen ini mengisahkan perjalanan hidup manusia, terutama perempuan, dalam mengarungi berbagai peristiwa. Cerita tentang perempuan dalam berbagai latar belakang serta dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda terangkum di sini. Keseluruhan cerpen ini sudah pernah diterbitkan di media massa, namun melihat tema pokoknya yang hampir seragam, ketika dikumpulkan, terbentuklah kumpulan cerita yang serasi.

Laki-laki dari Langit, cerpen pertama dalam buku ini menceritakan perempuan pemetik teh dan lelaki astronom. Membaca cerita ini menimbulkan perasaan hangat dan manis. Bagian akhir cerita ini memang mengungkap sebuah rahasia, tapi kesan hangat dan kelegaannya masih bisa dirasakan.

Di Jantung Batavia menceritakan perempuan peneliti sejarah yang bertemu dengan lelaki dari lain benua dengan ketertarikan yang sama. Pertemuan ini menimbulkan bibit-bibit perasaan di antara keduanya, tapi sayangnya mereka berpisah tanpa ikatan janji apa pun. Ketika salah satunya terkesan menagih janji yang tak pernah terucap, yang lain terjebak dalam keraguan penantian yang menyiksa. Sayang sekali waktu tak berpihak pada ungkapan cinta yang terlambat.

Getir Pesisir seakan membisikkan rahasia umum tentang para perempuan yang berjuang untuk mencari kesejahteraan hidup, tapi malah terjebak dalam neraka dunia. Yang lebih menyakitkan lagi adalah jika orang yang menjebak mereka adalah orang yang mereka kenal baik. Tak ada jalan keluar selain menenggelamkan diri dalam 'pekerjaan' dengan hati hampa atau menyerahkan diri pada ganasnya ombak lautan.

Di Pusat Lampu Merah bercerita dari sudut pandang seorang lelaki yang bekerja di laut dan merapat ke pesisir untuk mencari kebahagiaan semu. Cerita ini berkebalikan dengan Getir Pesisir dan mengambil latar dari belahan dunia yang lain. Si lelaki berusaha mengikat kebahagiaan pada seorang perempuan yang mencari pelanggan di sekitar lampu merah, menggantungkan harapan padanya. Tapi si perempuan tak kunjung datang. Ketika si lelaki dalam penantian, kehidupan meninggalkan raganya.

Raisha dan Sekotak Tanah bercerita tentang dua perempuan yang berbeda usia bertemu dalam kebetulan nasib. Si ibu yang kehilangan anaknya bertemu dengan seorang anak yang berusia sama dengan anaknya jika anaknya masih hidup. Si ibu juga kira-kira berusia sama dengan ibu si anak itu, yang sudah lama mati. Karena kesamaan nasib itulah mereka bertemu dan mencari kenyamanan dan penerimaan dalam diri masing-masing.

Pelangkah menceritakan seorang kakak perempuan sulung yang dilangkahi menikah oleh adik-adiknya. Cerpen ini sarat dengan budaya dan nilai lokal. Perasaan sang adik yang melangkahi kakak dan si kakak yang dilangkahi adik juga diceritakan dalam dialog dan meninggalkan kesan mendalam. Mengingatkan bahwa keikhlasan tidak bisa diukur dengan materi. Cerpen ini juga ditutup dengan kalimat yang indah: "Aku yang pertama, telah siap menjadi yang terakhir."

Perahu Rongsok menceritakan kegetiran lain dari sudut pandang si perahu. Kegetiran hidup manusia yang mengadu nasib melintasi samudera dengan perahu rongsok, demi hidup sehari lagi. Kegetiran perempuan yang menjadi budak manusia lain hanya karena yang lain memiliki kuasa atasnya. "Sudah jadi takdir kalian. Mestinya kalian tahu, bahwa tak mungkin di dunia ini semua akan bernasib mujur. Harus ada yang hancur."

Makan Malam Bersama Dewi Gandari, judul cerpen yang juga menjadi judul kumpulan cerpen ini bercerita tentang Kunti yang diundang makan malam oleh Gandari setelah perang Baratayudha. Dalam ketegangan makan malam itu, dua perempuan yang terluka saling mengingat kembali penderitaan masing-masing. Siapa yang lebih menderita, siapa yang lebih tangguh. Semuanya sudah berlalu, tapi kepedihannya masih terpendam dalam. "Mari kita menua dengan anggun, kakak. Urusan dunia kita rasanya sudah selesai."

Ashima, Titip Rindu untuk Calcutta adalah cerpen dengan jumlah karakter paling banyak, tapi tetap terkesan sama pendeknya dengan yang lain. Adalah Ashima, perempuan India yang telah menempuh penderitaan panjang sebelum bertemu dengan Saka, lelaki Indonesia, di Oxford. Cerita bergulir dari sudut pandang Saka. Walaupun keduanya memiliki tali kasih, ikatan tak pernah terbentuk karena supatta Ashima yang membentengi mereka.

Pengalaman membaca kumpulan cerpen ini memberi Hani kesan emosi yang bermacam-macam. Pemilihan kata dan cara merangkainya menjadi titik keindahan cerpen-cerpen ini. Lagi-lagi, manusia dengan segala keunikannya telah menjadi cerita sendiri untuk hidupnya.

View all my reviews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...