Kamis, 06 Oktober 2016

Siwa: Kesatria Wangsa Surya oleh Amish Trishpati

goodreads
Judul: Siwa: Kesatria Wangsa Surya
Judul Asli: The Immortals of Meluha
Penulis: Amish Tripathi (2010)
Alih Bahasa: Desak Nyoman Pusparini
Penerbit: Javanica, imprint PT Kaurama Buana Antara (2016)
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 429 hlm.

Blurb:
Kisah ini terjadi ribuan tahun silam di Lembah Sungai Indus. Orang-orang di kurun itu menyebutnya Meluha. Penduduknya berumur sangat panjang berkat ramuan misterius bernama Somras, yang dicipta dari pohon Sanjiwani dan tirta suci Saraswati. Negeri yang dihuni Wangsa Surya ini menghadapi ancaman hebat ketika sungai utama mereka mengering perlahan-lahan. Mereka pun dirundung serangan para pengacau dari timur: negeri Wangsa Chandra. Keadaan bertambah gawat ketika Wangsa Chandra tampaknya bersekutu dengan kaum Naga, bangsa yang sangat lihai berperang.

Ketika kejahatan merajalela, rakyat Meluha berharap pada sebuah ramalan kuno tentang seorang kesatria yang bakal tiba dan membebaskan mereka dari malapetaka. Dalam keputusasaan, muncul seorang pengungsi liar dari Gunung Kailasha, Tibet. Siwa namanya. Ciri-cirinya persis seperti ramalan. Apakah ia memang kesatria pembebas yang diramalkan? Dan apakah ia berhasrat menjadi juru selamat yang diharapkan? Terseret oleh arus takdirnya, oleh dharma, oleh cinta kepada kekasihnya, Siwa memimpin Wangsa Surya menerjang badai prahara.

Didasarkan pada wiracarita dan sejarah kuno, novel langka ini mengungkap kisah tersembunyi tentang kehidupan Siwa sang Mahadewa.

Review:
Mereka membiarkan diri dilucuti begitu mudah. Mereka tidak seperti para prajurit dungu yang haus darah di tanah orang dan mencari berbagai alasan untuk berperang.

Penggemar mitologi India seharusnya tidak melewatkan buku ini. Aku salah satunya, dan aku merasa beruntung mendapatkan kesempatan untuk membacanya (ssstt, kebetulan aku memang sedang menggandrungi salah satu sinetron India yang diputar di stasiun televisi swasta, jadi momennya pas!). Membaca buku ini memberiku pengalaman baru membaca fiksi tentang mitologi dan sejarah kuno India. Buku ini membeberkan kisah petualangan yang menarik berdasarkan kisah sejarah kuno kehidupan Siwa, sang Mahadewa. Cerita ini memang sangat populer, dan aku pun sebetulnya mengetahui bagaimana ceritanya. Tapi tetap saja, buku ini sangat menarik untuk disimak, sampai-sampai aku merasa nggak rela halamannya habis. We want more!


Cerita bermula dari penggambaran latar belakang Siwa yang berasal dari suku liar Pegunungan Tibet serta kehidupannya yang keras. Hidup Siwa berubah ketika tamu asing dari Meluha mengajaknya dan seluruh warga sukunya untuk tinggal dan bergabung dengan Meluha. Siwa yang cerdas tentu curiga, tapi setelah beberapa hari ditawan, para tamu asing itu menunjukkan sikap baik dan bahkan membantu suku Siwa. Akhirnya, Siwa menyetujui untuk bergabung dengan Meluha, tanpa mengetahui takdir apa yang menunggunya di sana.

Setelah itu, cerita berubah jadi menarik. Meluha, negeri asal tamu asing itu digambarkan dengan sangat detail akan keindahannya, keteraturannya, dan kepatuhan para warganya. Benar-benar seperti negeri impian. Mau tidak mau jadi membayangkan: kapan Indonesia bisa kayak gini, ya? Hehehee…

Selain penggambaran situasi yang sangat detail, kita juga disuguhi konflik yang sesungguhnya tak asing, namun pelik. Konflik antara kebaikan dan kejahatan hampir selalu ada dalam setiap cerita maupun kehidupan. Tapi kita juga diajak berpikir: apakah yang baik itu dan apakah yang jahat itu, serta bagaimana kita menghadapinya.

Tapi jangan khawatir, pemikiran-pemikiran yang ditimbulkan oleh buku ini tidak berat kok. Malah justru akan membuka wawasan kita tentang kehidupan. Banyak kutipan dan percakapan menarik dalam buku ini yang membuatku jadi ingin mengingatnya. Buku ini jadi bertebaran sticky notes karenanya. Setelah membaca buku ini, aku jadi merasa kebijaksanaanku meningkat beberapa digit (emangnya IQ? *peace). Mungkin nanti akan kutunjukkan beberapa kutipan menarik di postingan Scene on Three. Jadi jangan lupa ditengok ya…

Tidak melulu petuah dan deskripsi saja yang dijabarkan di buku ini, tapi juga jalan cerita yang seru dan menarik. Adanya adegan pertarungan yang cukup banyak menambah keseruan dan membacanya jadi mendebarkan. Gambar sampul buku ini memang sedikit mengintimidasi karena warnanya yang gelap dan ada gambar orang dengan bekas luka. Tapi hal itu menegaskan kalau buku ini sasarannya adalah orang dewasa. Yah, paling tidak udah punya katepe lah. Soalnya ada adegan dan kutipan yang memerlukan pemikiran bijaksana untuk mencernanya. Di dalam buku juga ada gambar peta-nya lho. Peta itu menggambarkan lokasi peristiwa yang terjadi dalam cerita, yaitu India pada zaman dulu.

Menghidupkan karakter dari kisah sejarah ini tidak mudah lho. Tapi penulis mampu mengeksekusinya dengan baik. Karakternya tergambar utuh baik dari deskripsi langsung, percakapan yang dilakukan tokoh, maupun pendapat tokoh lain dalam pembangunan karakter yang bersangkutan. Emosi karakternya juga diceritakan dengan baik. Pada saat-saat tertentu jadi ikut hanyut dalam emosi karakter yang diceritakan. Penulisnya pintar mengaduk-aduk emosi pembaca, nih. Karakter yang terlibat ada banyak sekali dan karena nama yang digunakan adalah nama India, agak sulit untuk disebut dan diingat. Tapi lama-kelamaan juga akan terbiasa.

Karakter Siwa di sini digambarkan cerdas tapi reachable. Walaupun ia berasal dari suku liar di pegunungan, Siwa dapat berpikiran logis dan kecerdasannya tidak lalu membuatnya sulit dijangkau. Lalu ada karakter-karakter yang menarik seperti Bhadra dan Nandi, yang sama-sama setia tapi Bhadra lebih bebas berekspresi sedangkan Nandi selalu memperhitungkan aturan. Kemudian ada Parwateshwar, sang prajurit yang gagah berani, jujur, dan teguh pendirian. Brahaspati, sang ilmuwan yang cerdik dan humoris membuat bacaan ini cukup menghibur. Dhaksa, sang penguasa Meluha agak menjengkelkan karena keras kepala, ceroboh, dan kadang egois. Lalu Sati, si perempuan tangguh yang sulit dimengerti. Hehehee… Karakter favoritku? Parwateshwar! Susah lho, jadi karakter yang bisa teguh pendirian tapi juga logis. Penulis mampu membuat para karakternya konsisten sampai akhir.

Terjemahannya oke. Istilah-istilah khusus berbahasa India dipertahankan dengan keterangan maknanya di catatan kaki. Hal itu membuat buku ini jadi terasa khas India baik dari segi bahasa maupun budayanya. Kalau dilengkapi glosarium di belakangnya mungkin akan makin oke karena mempermudah pencarian makna istilah berurut abjad. Tapi sampai akhir pun aku tetap terkesan dengan keseruan, ketegangan, kedalaman pemikiran dan perasaan, serta yang nggak kuduga adalah keromantisan! Coba kalau semua buku cerita mitologi seperti ini, betah bacanya.

Eh tapi ternyata… ceritanya belum berakhir sodara-sodara! Buku ini adalah buku pertama dari sebuah trilogi! Pantas saja penjelasannya banyak. Buku awal dari sebuah trilogi umumnya memang lebih banyak menjelaskan daripada mengumbar aksi. Jadi penasaran sama buku lanjutannya, mungkin aksinya akan lebih banyak. Tapi jadi terbayang juga, kalau buku pertamanya sudah banyak mengaduk emosi, lebih-lebih buku lanjutannya, ya? Yah, kita lihat saja nanti.

Brahaspati: “Kadang-kadang, kita perlu sedikit keyakinan ketika menghadapi keadaan yang sulit. Nalar tidak selalu bekerja. Kita mungkin juga perlu keajaiban.”
Parwateshwar: “Kau berbicara tentang keajaiban? Seorang ilmuwan?”
Brahaspati: “Dalam ilmu pengetahuan, keajaiban bukan hal yang mustahil, Parwateshwar.”



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...