Minggu, 23 Oktober 2016

Third Year at Malory Towers by Enid Blyton (Malory Towers #3)

Third Year at Malory Towers (Malory Towers, #3)Third Year at Malory Towers by Enid Blyton
Published: 1944
My rating: 3 of 5 stars
E-book, English Edition, 194 pages

Blurb:
The girls return for another term to find several new faces in their form. There is Zerelda, the American girl, Bill, short for Wilhelmina, who is mad about horses, and Mavis who has a remarkable voice and dreams of being an opera singer.

Review:
"...strength of character is one of the greatest things anyone can have because then they have courage and pluck and determination, no matter what difficulties come."
---Darrell Rivers


Sudah lama sekali Hani kepingin membaca ulang seri ini secara urut. Hani cuma punya dua buku pertamanya dan lainnya Hani pinjam-baca. Sekarang pun juga masih pinjam-baca, tapi dalam format e-book dan dalam bahasa aslinya.

Seperti biasa Darrell merasa bahagia dan bersemangat memasuki tahun ajaran baru di Malory Towers. Tapi kali ini sahabatnya, Sally, tidak ikut berangkat bersamanya karena sedang dikarantina akibat sakit beguk. Sedangkan ia harus menjemput seorang anak baru asal Amerika yang suka bergaya bak bintang film, bernama Zerelda Brass. Selain Zerelda, ada anak baru lain bernama Wilhelmina atau Bill yang memiliki tujuh saudara laki-laki dan amat menyukai kuda. Ada karakter baru juga, Mavis, yang bercita-cita jadi penyanyi opera.

Darrell merasa kesepian karena tidak ada Sally, dan Alicia juga kesepian karena tidak ada Betty. Jadi mereka saling bermain bersama. Tapi ketika Sally sudah masuk kembali ke sekolah, hal itu menimbulkan masalah karena kecemburuan Sally pada Alicia. Kemudian Betty masuk sekolah lagi dan semuanya kembali normal.

Tidak hanya Darrell saja yang mengalami masalah. Banyak anak lain yang menghadapinya. Kecemasan Bill akan kudanya yang sakit, obsesi Zerelda menjadi bintang film, dan kenekatan Mavis mengikuti lomba menyanyi tidak hanya membuat masalah bagi anak-anak itu saja, tapi membuat heboh seluruh sekolah. Tapi para guru kemudian sigap untuk membantu anak-anak yang beranjak dewasa itu untuk menghadapi masalah-masalah tersebut.

Seri ini memang ditujukan untuk anak perempuan menjelang abege karena kental dengan tema persahabatan, perkembangan pribadi, pengendalian emosi, dan pencarian jati diri. Bahasanya sederhana dan gamblang serta penuh pelajaran berharga. Ketika dibaca pas usia dewasa, membuat Hani jadi bernostalgia ketika masa-masa esempe dulu pas pertama kali baca seri ini.

View all my reviews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...