Selasa, 17 Januari 2017

[Book Review] Before I Go to Sleep by S.J. Watson

Before I Go to SleepBefore I Go to Sleep by S.J. Watson
Published: 2011
My rating: 3 of 5 stars
E-book, English edition, 359 pages

Blurb:
As I sleep, my mind will erase everything I did today. I will wake up tomorrow as I did this morning. Thinking I'm still a child, thinking I have a whole lifetime of choice ahead of me...

Memories define us. So what if you lost yours every time you went to sleep? Your name, your identity, your past, even the people you love--all forgotten overnight. And the one person you trust may only be telling you half the story.

Welcome to Christine's life.

Review:
Kalau mengintip blurb-nya, buku ini terkesan ber-genre suspense-thriller. Begitu baca, bagian awalnya memang sudah mengagetkan. Bayangkan ketika kita terbangun ternyata kita berwajah dua puluh tahun lebih tua daripada umur sebenarnya yang kita kira. Tapi kemudian kok nggak kerasa gregetnya.

Christine (tokoh utama dan narator sudut pandang orang pertamanya) ternyata menderita amnesia unik setelah kecelakaan yang menimpanya. Ia tidak bisa mengingat masa lalu (kadang ia merasa umurnya masih dua puluh tahun atau lebih muda), dan tidak bisa membentuk ingatan baru. Ingatannya hanya bertahan satu hari, dan besoknya, ia sudah lupa semua yang ia ingat hari sebelumnya, jadi semuanya mulai dari nol lagi.

Christine hanya tinggal berdua dengan suaminya, Ben. Dan aku berpikir kalau Ben benar-benar romantis karena betah tinggal dengan sang istri yang tak bisa mengingatnya, dan setiap hari setelah bangun pagi, ia harus menjelaskan dari awal lagi pada istrinya. Siapa dia, mengapa dia ada di sini, dan sebagainya. Dan katanya lagi, hal itu sudah terjadi selama belasan tahun? Luar biasa.

Tiba-tiba Christine mendapat telepon dari dokternya, yang tidak dia ingat, dan anehnya, Ben juga tidak menjelaskan padanya. Dr Nash datang dan memberikan Christine jurnal yang selalu ia tulis setiap hari sebagai bentuk terapi.

Setelah itu kita digiring untuk ‘menjadi’ Christine yang sedang membaca jurnalnya. Kesannya seperti membaca autobiografi orang yang hilang ingatan. Tapi ini fiksi. Dan nggak ada tanda-tanda bagian yang menegangkan dari jurnal itu. Karena itulah aku merasa greget suspense-thriller-nya jadi melempem. Kupikir penjelasan genre-nya salah. Harusnya ini contemporary romance. Tapi ternyata tidak.

Setelah selesai membaca jurnalnya sendiri, Christine mencoba mencari petunjuk bahwa yang ditulisnya bukan karangan. Ia menemukan benda-benda yang disembunyikan Ben. Tapi itu hanya menegaskan kalau Ben memang mencintai Christine. Walaupun begitu, ia masih ragu, karena bagian depan jurnalnya tertulis: Don’t trust Ben.

Bagian menjelang akhirnya baru terasa gregetnya, dan penjelasan genre-nya ternyata tidak salah. Karakter Christine sulit disukai karena di masa lalunya ia sangat egois. Aku menyalahkan Christine sendiri karena kesulitan yang didapatnya ini. Tapi twist-nya lumayan. Menegangkan dan ngeri. Aku sudah membayangkan yang terburuk, tapi penulis masih bermurah hati.

Jadi, mungkin buku ini bisa memberikan motivasi pentingnya menulis diari, bukan begitu? Salah satu manfaat menulis diari mungkin… sebagai catatan diri kalau-kalau suatu saat amnesia… *amit-amit*


View all my reviews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...