Kamis, 19 Januari 2017

[Book Review] Remembrance of Earth's Past #1: The Three-Body Problem by Liu Cixin

The Three-Body Problem (Remembrance of Earth’s Past, #1)The Three-Body Problem (Remembrance of Earth's Past #1) by Liu Cixin
Translator: Ken Liu
Published: 2014
My rating: 4 of 5 stars
E-book, English Edition, 400 pages

Blurb:
Set against the backdrop of China's Cultural Revolution, a secret military project sends signals into space to establish contact with aliens. An alien civilization on the brink of destruction captures the signal and plans to invade Earth.

Meanwhile, on Earth, different camps start forming, planning to either welcome the superior beings and help them take over a world seen as corrupt, or to fight against the invasion. The result is a science fiction masterpiece of enormous scope and vision.

The Three-Body Problem is the first chance for English-speaking readers to experience this multiple award winning phenomenon from China's most beloved science fiction author, Liu Cixin.

Review:
Hmm.. susah mau me-review ini. I felt both fascinated by the idea and bored to sleep by the technical details. Walaupun sebetulnya detail teknis dalam novel sci-fi ini luar biasa. Penulisnya betul-betul meriset teknis ilmu sains-nya dengan menyeluruh. Semua teorinya terasa nyata, sampai-sampai aku merasa seperti sedang membaca tesis. Karena pemahaman fisikaku sangat awam, penjelasan sains-nya yang komplit sampai ke tetek-bengek kecil-kecilnya seringkali membuatku bosan.

Yup, karena itulah bagian 'sains' dalan novel sci-fi ini terasa sampai ke dalam. Bungkus fiksi-nya hampir-hampir tidak terasa karena semua percakapan dalam novel ini sangat serius. Karakter yang percakapannya menarik mungkin hanya Shi Qiang atau sering dipanggil Da Shi, si polisi kasar yang kadang kurang ajar. Aku menobatkannya menjadi karakter protagonis menyebalkan. Tapi aku sendiri masih bingung siapa tokoh utama cerita ini, sampai aku membaca bagian kedua.

Bagian pertamanya menggambarkan suasana konflik di China pada tahun 1960-an. Kemudian di bagian selanjutnya cerita dipercepat ke 40 tahun kemudian, tepatnya tahun 2000-an. Seorang ilmuwan nanopartikel, Wang Miao tiba-tiba dihubungi pihak militer dalam rangka membahas kasus yang telah menewaskan sejumlah ilmuwan. Wang Miao mengira ia dibutuhkan sebagai informan karena ia mengenal beberapa ilmuwan yang tewas bunuh diri tersebut, tapi ternyata ia malah dijadikan sebagai 'mata-mata'.

Rasanya cerita jadi makin seru. Seperti apa ilmuwan ketika menjadi mata-mata? Tapi tidak ada aksi heboh terlibat seperti dalam televisi. Wang menyelidiki permainan Three-Body yang dimainkan salah satu kolega yang dicurigainya. Dari situ ia memperoleh informasi yang luar biasa.

Semakin mendekati akhir cerita, alurnya jadi maju-mundur. Rahasia makin banyak terungkap, dan penulis memilih untuk kembali ke masa lalu untuk mengungkapkannya daripada si tokoh yang menjelaskannya langsung. Bagus, sih. Jadi lebih mudah membayangkannya. Tapi karakter-karakternya jadi berjarak dengan pembaca. Aku nggak bisa menaruh simpati pada siapapun tokoh di dalamnya, dan gara-gara itu aku jadi merasa kalau dunia orang dewasa ini kok dingin sekali.

Hal yang membuatku takjub dari novel ini adalah setting waktunya. Sebagai novel sci-fi, setting waktu yang dipilih bukan ratusan tahun ke depan, tapi dalam rentang waktu 1960-an sampai 2000-an. Walaupun begitu, penulis seakan membuat rentang waktu tersebut menjadi luar biasa dengan penjelasan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat mendetail. Sedangkan untuk genre-nya, sci-fi melingkupi sebagian besar ceritanya, tapi di dalamnya juga terdapat misteri, crime, filosofi, dan fiksi sejarah.

Mungkin karena banyak detail teknis dalam deskripsinya, membuat novel ini kaku. Terjemahan Inggris-nya banyak diksi yang jarang digunakan atau mungkin karena istilah teknisnya, aku seringkali harus membuka kamus untuk mengetahui maknanya. Tapi untuk penjelasan sejarahnya, terdapat catatan kaki yang menjelaskannya. Karena itulah rasanya seperti membaca tesis. Hehehee..

Membaca novel ini memang harus ekstra sabar. Tapi bagian akhirnya cukup memuaskan. Selain itu juga menggelitik rasa penasaran untuk mengetahui cerita selanjutnya. Ada twist dan aha-moment yang tiba-tiba muncul sehingga kantuk karena membaca deskripsi teknisnya langsung hilang.

Kalau tertarik untuk membaca novel yang dibalut deskripsi ilmu fisika dan hard-science yang kental, buku ini layak dibaca untuk menguji logika. Bahkan penulis kondang Rick Riordan juga membaca buku ini dan memberikan empat bintang, karena itulah aku bertahan menyelesaikannya.

View all my reviews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...