Minggu, 15 Januari 2017

[Book Review] Kenangan Kematian oleh Agatha Christie

Sparkling Cyanide (Kenangan Kematian)Kenangan Kematian - Sparkling Cyanide by Agatha Christie
Judul Asli: Sparkling Cyanide
Alih bahasa: Ade Dina S.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2013)
My rating: 4 of 5 stars
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 312 hlm.

Blurb:
"Istri Anda, Rosemary, tidak bunuh diri. Dia dibunuh!"

George Barton menerima surat kaleng yang misterius itu setahun setelah kematian istrinya, Rosemary.

Semua berawal pada pesta ulang tahun Rosemary. Enam orang yang hadir ketika itu melihatnya mengangkat gelas sampanye dan meneguk isinya. Tiba-tiba dia tersungkur—mati. Keputusan hakim: bunuh diri dengan racun. Tapi setelah munculnya surat kaleng itu, orang mulai bertanya-tanya. Orang mulai mengingat-ingat: surat cinta Rosemary yang penuh asmara kepada kekasih gelapnya, Leopard yang misterius; ancaman-ancaman si tampan Anthony Browne; dan kenyataan bahwa Iris Marle, adiknya yang miskin, akan mewarisi kekayaannya.

Dan ada orang yang ingat terlalu banyak. Maka si pembunuh pun beraksi lagi!

Review:
Kali ini aku juga berhasil menebak pelaku, motif, dan triknya. Aku benar-benar senang. Tapi tidak ada Papa Poirot di sini. Kasus ini melibatkan Kolonel Race, yang pernah bekerja sama dengan Papa Poirot dalam cerita Pembunuhan di Sungai Nil. Di cerita ini, Kolonel Race hanyalah pengamat dari tragedi yang terjadi. Ia tidak terlibat langsung di dalamnya.

Sebetulnya tidak aneh kalau triknya ketahuan. Hampir sama dengan Tragedi Tiga Babak yang barusan kubaca. Selain itu, trik ini juga ada di kasus Bunga Iris Kuning yang menjadi salah satu cerita pendek di buku Masalah di Teluk Pollensa, dengan Papa Poirot di dalamnya. Persamaannya bisa dilihat dari judul cerita ini (dalam judul aslinya), yaitu sianida, atau secara umum, racun.

Agatha Christie banyak menunjukkan keahliannya dalam bidang kimia dalam cerita-ceritanya, karena seringkali melibatkan racun. Tapi trik dan motifnya selalu mengecoh pembaca sehingga sulit untuk menebak pelakunya. Seperti cerita ini. Motifnya susah diketahui karena ada berbagai macam skenario. Bagaimana tidak, tokohnya saja ada banyak. Dan korbannya memang tipe yang bakal diincar banyak orang.

Karena posisi Kolonel Race di sini hanya sebagai pengamat, cerita dijabarkan dari berbagai sudut pandang para tokohnya. Tapi masih dalam sudut pandang orang ketiga. Cerita berpindah dari tokoh satu ke tokoh yang lain. Masing-masing tokoh diceritakan hubungannya dengan korban. Jadi ketika diinterogasi, ketahuan siapa yang berbohong.

Bagaimana aku bisa menebak pelakunya? Karena pelakunya melakukan kesalahan. Coba baca dan simak baik-baik, akan ketahuan kesalahannya di mana. Dan kisah ini juga berakhir dengan memuaskan. Manis, kalau kubilang.

Senang sekali bisa menebak pelaku dengan benar dua kali berturut-turut di kisah karya Agatha Christie! Aku akan mencoba peruntungan untuk ketiga kalinya.


View all my reviews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...