Kamis, 12 Januari 2017

[Book Review] Tragedi Tiga Babak oleh Agatha Christie

Three Act Tragedy (Tragedi Tiga Babak)Tragedi Tiga Babak - Three Act Tragedy by Agatha Christie
Judul Asli: Three Act Tragedy
Alih bahasa: Mareta
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2007)
My rating: 3 of 5 stars
Paperback, Edisi Bahasa Indonesia, 288 hlm.

Blurb:
Hercule Poirot menyatakan telah pensiun dari kariernya sebagai detektif paling hebat. Tak ada yang dapat menariknya kembali ke arena kejahatan.

Namun dalam suatu acara makan malam yang dihadirinya, seorang hamba Tuhan yang lembut menjadi korban pembunuhan kejam, kemudian seorang dokter ahli saraf yang brilian dihabisi. Tantangan ini terlalu kuat untuk ditolak.

Si pembunuh yang licik mengotori panggung dengan petunjuk-petunjuk menyesatkan. Mayat-mayat bergelimpangan. Hanya Hercule Poirot yang bisa menurunkan tirai penutup pertunjukan mengerikan ini...

Review:
Nyaris terkecoh, tapi aku bisa menebak pelaku dan triknya. Wah, betapa bahagianya! Baru kali ini aku berhasil menarik kesimpulan yang sama dengan Papa Poirot. Tebakanku tentang pelakunya ternyata benar. Begitu pula dengan triknya yang sangat mahir dilakukan pelakunya. Tapi Papa Poirot berhasil membekuk pelakunya.

Walaupun demikian, aku tidak bisa menebak motifnya. Aneh, karena biasanya motif kejahatan lebih mudah diketahui. Kalau sudah mengetahui motif yang benar, biasanya pelakunya juga sudah akan ketahuan. Tapi pelaku kejahatan di sini memang selicin belut. Sampai-sampai Papa Poirot pun juga kerepotan mengetahui motifnya.

Ketika kalimat pembukanya menyebutkan Mr. Satterthwaite, aku sudah bersemangat. Mr. Satterthwaite adalah salah satu karakter favoritku. Biasanya sih, Mr. Satterthwaite dipasangkan dengan Mr. Harley Quin. Tapi di sini, Mr. Satterthwaite bekerja bersama Hercule Poirot. Wah, bikin tambah bersemangat!

Papa Poirot memang memegang peran penting. Tapi cerita bermain dari sudut pandang Mr. Satterthwaite (paling banyak, karena ada juga bagian yang diceritakan dari sudut pandang tokoh lain). Secara umum penceritaan kisah ini tetap menggunakan sudut pandang orang ketiga. Pembaca lebih jarang berinteraksi dengan Papa Poirot. Tapi dengan pengamatan Mr. Satterthwaite yang jeli, aku jadi bisa mengikuti arah kasusnya.

Seperti judulnya, seluruh rangkaian kasus ini dibagi dalam tiga babak. Babak pertama sangat membingungkan. Bahkan Papa Poirot pun sampai memutuskan bahwa tragedi yang terjadi ‘bukan apa-apa’. Tapi ketika di babak kedua terjadi tragedi serupa, mau tidak mau Mr. Satterthwaite dan Papa Poirot menganggap tragedi sebelumnya memang ada ‘apa-apanya’. Tragedi di babak ketiga benar-benar di luar dugaan. Aku sampai kaget dengan twist-nya.

Kalau ingin menebak dengan benar, kusarankan untuk menaruh perhatian lebih pada pengamatan Mr. Satterthwaite. Memang harus benar-benar teliti, karena petunjuknya sangat kecil dan halus, serta gampang terlewat. Aku sampai harus beberapa kali membolak-balik halaman ketika menemukan petunjuk, untuk memastikan dugaanku benar.

Dan, aku puas. Kasusnya memang ngeri, karena Mr. Satterthwaite dan Papa Poirot juga bisa jadi korban, tapi semuanya berakhir dengan memuaskan.


View all my reviews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...