Minggu, 23 Juli 2017

[Book Review] The Dark Forest by Liu Cixin

The Dark Forest The Dark Forest by Liu Cixin (Remembrance of Earth's Past #2)
Translator: Joel Martinsen
Published: 2008
E-book, English edition, 512 pages
My rating: 5 of 5 stars

Blurb:
Earth is reeling from the revelation of a coming alien invasion — four centuries in the future. The aliens' human collaborators have been defeated but the presence of the sophons, the subatomic particles that allow Trisolaris instant access to all human information, means that Earth's defense plans are exposed to the enemy. Only the human mind remains a secret. 

This is the motivation for the Wallfacer Project, a daring plan that grants four men enormous resources to design secret strategies hidden through deceit and misdirection from Earth and Trisolaris alike. Three of the Wallfacers are influential statesmen and scientists but the fourth is a total unknown. Luo Ji, an unambitious Chinese astronomer and sociologist, is baffled by his new status. All he knows is that he's the one Wallfacer that Trisolaris wants dead.


Ulasan:
Oh, wow... Mindblowing and out of the box. Aku sendiri heran kok berhenti baca di tengah cukup lama sebelum aku bisa menyelesaikannya. Tapi setelah aku mencapai bagian tengahnya dengan susah payah, semangat baca untuk menyelesaikan bacaan ini langsung menyala-nyala.


Memang bahasa teknisnya sangat kompleks, sehingga perlu waktu cukup lama untuk memahaminya. Selain itu, deskripsi kejadiannya sangat panjang, jadi sering kali membuatku mengantuk, tidak sabar, dan atau kehilangam minat untuk melanjutkan. Tapi rasa penasaran mengalahkan itu semua.

Dalam buku pertama telah diceritakan bahwa ilmuwan terdahulu menemukan adanya kehidupan lain di luar angkasa. Alien itu dinamakan Trisolaran, karena hidup di planet dengan tiga matahari (Trisolaris). Penemuan itu direspon secara positif dan negatif oleh manusia. Oleh karena planet yg dihuni alien tersebut tidak layak huni, mereka akan datang ke bumi.

Ada kelompok yang mendukung kedatangan alien, yaitu ETO. Masyarakat lainnya menolak. Dalam buku kedua ini diceritakan persiapan manusia dalam menghadapi kedatangan Trisolaran ke bumi.

Sebelum Trisolaran datang berbondong-bondong, mereka mengirimkan suatu materi yang dapat memata-matai segala informasi yang ada di bumi, disebut sophon. Manusia merasa tidak aman dan sangat terekspos dengan dunia luar. Tapi sophon memiliki kelemahan. Karena komunikasi Trisolaran yang tidak mengenal perbedaan antara berpikir dan berbicara, sophon tidak dapat memata-matai pikiran manusia. Hanya dalam pikiran sendiri manusia aman.

Dalam menghadapi Trisolaran yang memata-matai ini, manusia harus membuat rencana yang tidak bisa diketahui Trisolaran. Suatu misi yang hampir mustahil. Pikiran manusia memang aman dari sophon, tapi bagaimana manusia mengomunikasikan rencana rahasia itu tanpa ketahuan sophon?

Namun demikian, dunia tetap saja membentuk Wallfacer Project dengan empat orang terpilih untuk membuat rencana itu. Tugas yang diemban para Wallfacer sangat berat. Masing-masing Wallfacer memiliki satu Wallbreaker yang berasal dari ETO dan akan muncul jika Wallfacer gagal, yang artinya, rencana mereka ketahuan sophon dan Trisolaran.

Adalah Luo Ji, yang hanya seorang ilmuwan cosmic sociology, terpilih menjadi salah satu Wallfacer. Ia juga menjadi satu-satunya Wallfacer yang selamat dari percobaan pembunuhan oleh ETO dan Trisolaran, karena ada Da Shi alias Shi Qiang, si pak polisi yang melindunginya. Entah apa alasannya Trisolaran mengincarnya.

Aku sulit memahami rencana yang dibuat para Wallfacer. Yang jelas, dua di antaranya menyusun rencana yang sangat ekstrim, yang melibatkan aksi militer dan pembuatan bom dengan daya ledak hingga dapat menghancurkan planet. Sayangnya kedua rencana itu gagal karena sudah diketahui maksudnya oleh Wallbreaker. Keduanya tewas: satu bunuh diri, satu dirajam.

Setelah dua Wallfacer gagal, dua lainnya dimasukkan dalam mode hibernasi. Sementara itu, penelitian Wallfacer ketiga tentang psikologi manusia terus berlanjut. Delapan tahun kemudian, kedua Wallfacer dibangunkan. Bill Hines, Wallfacer yang meneliti tentang psikologi manusia membuat sebuah Faith Center yang memasang Mental Seal ke alam bawah sadar manusia agar manusia dapat selalu yakin bahwa manusia akan menang melawan Trisolaran.

Sementara itu, Luo Ji malah membuat rencana yang sangat absurd: ia meminta agar badan antariksa mengirimkan sinyal berupa tiga puluh titik tiga dimensi ke luar angkasa, tepatnya ke bintang kedua terdekat dari matahari. Ia menyebutnya mantra untuk mengutuk bintang itu. Setelah itu, Luo Ji sakit parah dan dihibernasi lagi bersama Hines.

Mereka dibangunkan 185 tahun kemudian. Teknologi sudah sangat maju, dan Trisolaran sudah semakin dekat ke bumi. Kapal ruang angkasa sangat banyak dan mengambil pos di banyak tempat di tata surya serti di Mars, Jupiter, Neptunus, dan bulan-bulan mereka. Hal itu untuk menghadapi kedatangan Trisolaran.

Wallbreaker Hines muncul ketika tugas Wallfacer mereka dicabut. Rencana Hines akhirnya ketahuan, walaupun terlambat. Sudah 185 tahun rencana itu berjalan, tak bisa diubah lagi. Suatu ketika Trisolaran mengirim probe yang berbentuk seperti tetesan raksa sehingga disebut droplet ke tata surya. Kelihatan tidak berbahaya awalnya, jadi manusia menganggap hal itu adalah hadiah perdamaian. Ternyata satu droplet itu bisa menghabisi ratusan kapal luar angkasa.

Rencana Wallfacer Hines gagal sampai ia sendiri hampir gila. Hanya dua kelompok kapal luar angkasa yang selamat, tapi mereka tak bisa kembali ke bumi, karena pasti akan diincar droplet. Jadi mereka pergi.

Masalah masih terus menghadang. Sumber daya untuk hidup di kapal luar angkasa yang kabur itu adalah hal krusial yang dibutuhkan para awak sampai mereka menemukan tempat mirip bumi. Bumi sendiri juga mengalami kekacauan. Hanya tinggal rencana absurd Luo Ji yang tersisa. Apakah akan berhasil?

Ketika mengetahui rencana Luo Ji, aku tidak melihat di mana faedahnya. Kesannya sangat random dan putus asa, seperti hanya menggugurkan kewajiban sebagai Wallfacer. Tapi ketika sampai 10% terakhir bukunya, Luo Ji menjelaskannya. Dan aku hanya bisa...wow...

Antara kesal dan takjub. Kesal karena ternyata idenya sangat sederhana. Tapi juga takjub, kok ya bisa kepikiran sampai situ. Kemudian diceritakan juga beberapa kejadian sulit dan dilematis ketika harus memutuskan siapa yang harus berkorban agar yang lain tetap hidup, dan hal ini bikin sedih. Pada akhirnya, ternyata semua rencana Wallfacer dijalankan, karena keadaan sangat mendesak, serta digunakan untuk mengancam dan negosiasi.

Jadi Wallfacer sama sekali nggak gampang. Tiba-tiba dipilih oleh pemerintah untuk menjalankan misi mustahil. Kalau gagal dapat malu, nggak dipercaya, dan dibuang. Memang, Wallfacer diberi semua sumber daya untuk menjalankan rencananya, tapi resikonya sangat besar. Wallfacer diberi tugas untuk memberikan harapan ke umat manusia. Tapi orang lain sepertinya nggak sadar kalau Wallfacer itu juga cuma manusia. Ada banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita ini, di antaranya, kalau kita menaruh harapan pada seseorang, dan walaupun orang itu sudah berusaha tapi hasilnya membuat kecewa, ingatlah kalau ia juga adalah manusia biasa.

Masih ada satu buku lagi lanjutan kisah ini, tapi nanti dulu bacanya. Otakku panas memproses semua informasi ini. Tapi jelas akan kubaca, suatu saat nanti. Hehehee...

"The universe is a dark forest. Every civilization is an armed hunter stalking through the trees like a ghost, gently pushing aside branches that block the path and trying to tread without sound..." -Luo Ji

View all my reviews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...