[Book Review] Big Little Lies by Liane Moriarty

Big Little LiesBig Little Lies by Liane Moriarty
My rating: 4 of 5 stars
E-book, 460 pages
Published July 29th 2014 by Berkley

Blurb:
Big Little Lies follows three women, each at a crossroads:

Madeline is a force to be reckoned with. She’s funny and biting, passionate, she remembers everything and forgives no one. Her ex-husband and his yogi new wife have moved into her beloved beachside community, and their daughter is in the same kindergarten class as Madeline’s youngest (how is this possible?). And to top it all off, Madeline’s teenage daughter seems to be choosing Madeline’s ex-husband over her. (How. Is. This. Possible?).

Celeste is the kind of beautiful woman who makes the world stop and stare. While she may seem a bit flustered at times, who wouldn’t be, with those rambunctious twin boys? Now that the boys are starting school, Celeste and her husband look set to become the king and queen of the school parent body. But royalty often comes at a price, and Celeste is grappling with how much more she is willing to pay.

New to town, single mom Jane is so young that another mother mistakes her for the nanny. Jane is sad beyond her years and harbors secret doubts about her son. But why? While Madeline and Celeste soon take Jane under their wing, none of them realizes how the arrival of Jane and her inscrutable little boy will affect them all.

Big Little Lies is a brilliant take on ex-husbands and second wives, mothers and daughters, schoolyard scandal, and the dangerous little lies we tell ourselves just to survive.

Ulasan:
Terkedjoet. Itu kesan akhir yang saya dapat. Kalimat paling akhir yang menjadi penutup kisah ini juga jadi memiliki kekuatan dari kisah yang sudah diceritakan. Padahal, mungkin hanya terlihat seperti sebuah kalimat biasa, sebiasa: "This can happen to anyone."


Awalnya saya pikir ini adalah bacaan ringan yang cepat selesai sekali duduk. Yah, pendahuluannya mengatakan kalau kisah ini seputar ibu-ibu dari anak-anak taman kanak-kanak. Mungkin isinya seputar parenting dan gosip, kan?

Ternyata bukan hanya itu. Mulai dari bullying, sifat psikologis turunan, sampai domestic violence pun masuk. Konfliknya jadi berlapis-lapis. Belum lagi emosi para karakternya yang semakin lama jadi seperti angin ribut, berputar-putar semakin besar dan merusak.

Karakter yang terlibat sangat banyak. Penulis menceritakannya dengan beberapa karakter sebagai sudut penceritaan. Selain itu, alurnya maju-mundur dengan menaruh potongan dialog yang seharusnya terjadi setelah kejadian.

Perlu beberapa saat untuk beradaptasi dengan cara penulisannya, berhubung ini pertama kalinya saya membaca kisah yang ditulis penulis ini. Tapi akhirnya saya tenggelam langsung ke dalamnya. Saya beberapa kali merasa marah dan frustasi, ketika karakter mengalami jalan buntu. Rasanya seperti benar-benar terjadi.

Sepanjang cerita, saya menebak-nebak siapa yang menjadi korban, bukan pelaku. Lucu, kan? Biasanya dalam cerita whodunit pasti pembaca menebak pelaku. Di buku ini, yang terjadi pada saya malah sebaliknya.

Karena bercerita tentang ibu-ibu anak TK, cerita ini jadi terasa dekat dengan realita. Apalagi jaman sekarang, ketika orang berlomba-lomba untuk memasang foto bahagia terbaik yang membuat orang iri, padahal belum tentu kenyataannya demikian.

Sangat menarik menyimak cerita yang meramu berbagai macam persoalan kompleks menjadi cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tapi juga sekaligus mengerikan karena menyadarkan saya kalau kehidupan sehari-hari juga sangat mudah bersinggungan dengan kekerasan, penghakiman, dan fitnah.

Salah satu adegan yang membuat saya sedih adalah ketika beberapa orang tua melarang anak-anaknya untuk bermain dengan Ziggy, hanya karena ia diduga menyakiti anak lain. Padahal mereka masih berumur 5 tahun! Ketika Ziggy menangis, rasanya saya juga jadi ingin ikut menangis. Tapi Ziggy punya beberapa teman loyal ternyata, seperti Chloe yang langsung menonjok anak yang terang-terangan menolak Ziggy. Saya tertawa membacanya. Anak-anak memang polos. Kadang malah justru para orang tua yang berlebihan.

Pada akhirnya, sama seperti kalimat terakhir kisah ini, "Hal ini bisa terjadi pada siapapun".

View all my reviews

Komentar