Minggu, 07 September 2014

The Hunger Games: Catching Fire & Mockingjay – Johanna Mason



goodreads
goodreads
Haiiiii pengunjung Sudut Buku Hani.. Akhirnya setelah sekian lama, bisa kembali lagi (emang dari mana aja sih neng?). KKN selama 2 bulan bikin kegiatan review vakum sementara, walaupun baca buku tetep jalan (cuma 3 buku sih). Jadiii, buat mengobati rindu teman-teman pengunjung, Hani mau cuap-cuap, nggak jauh-jauh dari buku tentunya. Ini mungkin bukan review, karena nggak fokus ke cerita atau bukunya, tapi lebih fokus ke karakter dalam buku. Tapiii, mungkin ulasan ini akan mengandung spoiler, jadi sebelum melangkah lebih jauh, aku akan memperingatkan dulu:

>> SPOILER ALERT! <<
Baca, resiko tanggung sendiri :P

Karakter yang mau kubahas yaitu Johanna Mason yang muncul di The Hunger Games: Cathing Fire (2009) dan Mockingjay (2010) oleh Suzanne Collins. Why? Karena menurutku, Johanna Mason ini karakter yang menarik dan unik.

Jena Malone (here)
Aku tahu Johanna Mason pertama kali dari versi filmnya yang diperankan oleh Jena Malone (inisialnya sama yak). Dalam film, kesan pertama yang kutangkap yaitu ‘orang ini urat malunya udah putus kali ya?’ Atau mungkin mentalnya terganggu, mengingat Hunger Games adalah permainan yang kejam. Tapi aku mulai kenal lebih dekat dengan Johanna waktu baca The Hunger Games: Catching Fire. Di buku, Johanna digambarkan seperti ini:

Dia menang karena dengan meyakinkan dia menampilkan sosok yang lemah dan tak berdaya, sehingga tidak ada yang memburunya. Lalu dia menunjukkan kemampuan kejinya dalam membunuh. – THG: Catching Fire, p.234

Johanna Mason / Jena Malone (here)
Jadi selain tak punya urat malu, Johanna juga punya strategi bertahan hidup yang berkesan licik. Tapi memang, dalam Hunger Games apapun dihalalkan. Selain itu, lidahnya licin. Kalau sedang jengkel, bermacam-macam kata makian bisa keluar. Dia berpendapat se-terus terang mungkin, termasuk kata makiannya. 

Dalam film dan buku, terdapat perbedaan di adegan ketika Johanna diwawancarai Caesar sebelum Quarter Quell dimulai. Di buku, wawancara Johanna digambarkan berisi bahwa Johanna mempertanyakan kebijakan Capitol untuk 'memisahkan' Katniss dan Peeta. Tapi di film, wawancara Johanna lebih hot, karena dia terang-terangan menantang Capitol dan memaki-makinya, walaupun Caesar hanya beranggapan bahwa dia hanyalah gadis yang agak sinting.

Johanna mungkin adalah satu-satunya orang yang terang-terangan menantang Capitol sementara peserta yang lain hanya dapat ngedumel dalam diam. Katniss sampai heran, bagaimana bisa ada orang seberani itu? Bukan hanya berani malah, tapi terlampau nekat. Hal itu dijelaskan disini:

Johanna takkan pernah memenangkan penghargaan karena kebaikannya, tapi dia jelas berani. Atau gila. – THG: Catching Fire, p.373

“Mereka tidak bisa menyakitiku. Aku tidak seperti kalian. Tak ada seorang pun yang masih kusayangi.” – Johanna Mason, THG: Catching Fire, p.374

Merinding rasanya membayangkan tidak memiliki satu pun orang yang disayangi. Capitol telah merenggut orang-orang itu darinya. Tapi dia masih bertahan hidup, jadi pasti ada hal yang bisa membuatnya bertahan sampai saat itu. Kalau tak ada siapapun yang dia sayangi masih hidup sementara ia masih mampu bertahan, maka orang ini pastilah strong girl. Tapi sekuat-kuatnya manusia, tentu ada lemahnya...

Haymitch: “Johanna dirawat lagi di rumah sakit.”
Katniss: “Apakah dia terluka? Apa yang terjadi?”
Haymitch: “Kejadiannya ketika dia di Block. Mereka berusaha memancing keluar kelemahan prajurit. Jadi mereka membuat jalanan banjir untuknya.”
Katniss: “Memangnya kenapa?”
Haymitch: “Itulah cara mereka menyiksanya di Capitol. Merendamnya ke air lalu menyetrumnya.”
THG: Mockingjay, p.275-276

Gimana Katniss nggak shock? Membayangkannya pun aku nggak tega. Terlalu kejam. Kalau aku jadi Haymitch pun, aku mungkin nggak sampai hati mengucapkannya >> Merendamnya ke air lalu menyetrumnya. Ohlalaaa T.T

Orang lain yang denger pun shock, gimana orang yang mengalaminya sendiri? Tapi Johanna masih hidup. Bisa dimengerti kalau dia jadi kacau. Yang sedih adalah:

Dia tidak punya keluarga. Tak punya teman-teman. Bahkan tak ada barang kenangan dari 7 selain seragam di lacinya. Tak ada apa pun. – THG: Mockingjay, p.276

Pada awalnya, Katniss dan Johanna mungkin tidak saling menyukai. Tapi mereka mengalami masa yang sama dan arena yang sama dalam menghadapi kekejaman Capitol. Jadi Katniss melakukan ini untuk Johanna:

Di hutan, aku menemukan pohon pinus dan mencabut beberapa genggam jarum-jarum pinus yang wangi dari dahannya. Setelah membuat tumpukan jarum pinus yang rapi di tengah perban, aku melipat bagian sisi perban, menekuk ujungnya, dan mengikatnya erat-erat dengan sulur, sehingga membentuk buntelan kecil seukuran buah apel.
Johanna: “Apa itu?”
Katniss: “Aku membuatnya untukmu. Supaya bisa kausimpan di lacimu. Ciumlah.”
Johanna: “Wanginya seperti rumah.”
Air mata membanjiri matanya.
THG: Mockingjay, p.277

So sweet… T.T
Even though she’s strong, she’s still a girl.

Oiyaa, tak lupa aku mengucapkan terima kasih buat Citra, Mey-mey, dan Nabila yang sudah ‘meminjamkan’ film The Hunger Games dan THG: Catching Fire, buat my lovely sister Vina atas kadonya: buku THG: Catching Fire, dan Mas Dion yang sudah meminjamkan THG: Mockingjay yang langsung kuhabiskan dalam sehari saking penasarannya. :D
Review per bukunya menyusul yaa…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...