Minggu, 15 Mei 2016

The Dead Returns oleh Akiyoshi Rikako

Judul: The Dead Returns
Oleh: Akiyashi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Haru (2015)
Edisi Bahasa Indonesia, Paperback, 232 hlm.

Blurb:

Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing.
Untungnya aku selamat.

Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin,
aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja.
Tubuhku berganti dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.

Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.

Tersangkanya, teman sekelas.
Total 35 orang.
Salah satunya adalah pembunuhku.

Komentar:

Aku sudah punya cukup lama kedua karya Akiyoshi Rikako yang sudah diterjemahkan. Tapi baru kubaca sekarang :P (dasar mental penimbun). Nggak ada alasan khusus kenapa The Dead Returns kubaca lebih dulu daripada Girls in The Dark. Lagipula, keduanya tidak berseri, hanya covernya yang dibuat sepasang, ditulis orang yang sama, dan mengangkat tema remaja SMA. Tema yang menarik untuk disimak terutama untuk remaja dan dewasa muda karena banyak sekali ragam konfliknya.

The Dead Returns mengangkat konflik bullying. Well, bukan bullying yang high impact sampai tonjok-tonjokan sih, tapi lebih ke 'terselubung'. Jadi kadang karena ada beberapa orang yang supel, tampan, pandai, atletis, mereka jadi lebih populer daripada orang lainnya, dan akan lebih condong kurang memperhatikan orang-orang yang tertutup dan pemalu. Orang-orang yang pemalu pun jadi seperti tidak dianggap oleh orang-orang populer, dan hal itu bagi beberapa orang sama menyakitkannya dengan di-bully. Oke, jadi hal ini merupakan hal baru bagiku, karena aku bukan tipe orang yang terlalu pemilih dalam berteman.

Nah, buku ini bercerita tentang Nobuo, anak yang tidak tampan, tidak populer, pendiam, dan otaku kereta api di SMA Higashi. Pada suatu hari ia dipanggil oleh seseorang untuk bertemu di tebing, tapi kemudian dia didorong hingga jatuh dari tebing. Ia koma selama dua bulan, tapi ketika bangun, ia dipanggil dengan nama Takahashi dan memiliki fisik yang sama sekali berbeda. Sepertinya jiwa Nobuo terjebak dalam tubuh Takahashi.

Takahashi adalah orang yang tampan dan populer. Nobuo merasa aneh mendapat perlakuan yang berbeda dari kawan-kawannya, padahal secara sikap ia masih sama seperti Nobuo, walaupun memiliki wajah tampan Takahashi. Jika "Takahashi" melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan "Nobuo", komentar yang didapatkannya dari teman-temannya sangat berbeda. Apakah perbedaan perlakuan itu karena tampang? Apakah orang populer selalu menyebalkan? Kenapa bisa ada orang yang populer dan ada yang tidak? Selain memikirkan perbedaan itu, ia juga harus menyelidiki pembunuh "Nobuo" dan pelakunya ada di antara teman-teman sekelasnya.

Aku mendapat kesan seperti sedang membaca shoujo manga ketika membaca buku ini walaupun tokoh utamanya cowok. Cerita buku ini juga memiliki kesan seperti cerita Teru-Teru Bozu karya Ziggy Z yang sama-sama mengambil tema anak SMA Jepang. Terjemahannya enak dibaca. Istilah-istilah khas Jepang banyak yang sengaja tidak diterjemahkan agar kesan Jepang-nya terasa, tapi disertakan penjelasan serta artinya di catatan kaki agar orang awam juga mengerti. Bagi orang yang tidak familiar dengan istilah Jepang mungkin akan merasa capek karena banyak sekali istilah yang diberi keterangan di catatan kaki, tapi karena aku cukup familiar dengan istilah-istilah itu, bagiku hal itu tidak masalah.

Aku dibuat berkaca-kaca di penutup ceritanya. Tapi menurutku penutupnya agak terlalu "smooth". Jika dibuat lebih "rough" aku pasti bakal kena book hangover parah. Hahahaa.. Secara keseluruhan, ceritanya bagus dan menginspirasi. Tokohnya nggak ada satupun yang likeable, tapi itu manusiawi, nggak ada manusia yang sempurna (eeaaaakk :P).

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini. Kadang tidak mempedulikan orang atau menganggap orang lain tidak ada bisa membuat orang sakit hati dan bahkan bisa lebih buruk daripada bullying. Tapi kadang memang ada orang yang lebih suka didiamkan karena tidak ingin diganggu. Serba salah ya? Memang, body language itu susah dipahami, tapi tidak ada larangan untuk mencoba bertanya dan memahami. Kuncinya adalah "no hard offense", dibawa santai saja. Kurasa itu adalah inti dari pergaulan, untuk saling memahami dan menghargai orang lain.

2 komentar:

  1. Kak, coba baca Girls in The Dark. Menurutku endingnya yg Girls In The Dark lebih rough, dan bikin menganga nggak percaya.
    Ayo Kak, baca baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa, iya banyak yang bilang Girls in The Dark lebih wow.. okee, nanti kubaca deh..

      Makasih ya udah berkunjung :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...